Terima Kasih, Media Sosial



Teringat dulu waktu aku pernah ngefans berat sama Cristiano Ronaldo. Gara-gara dia aku jadi rajin beli tabloid Bola. (Sayang sekali tabloid itu sekarang udah nggak terbit lagi). Supaya apa rajin beli tabloid Bola? Supaya bisa dapat kabar berita tentang dia, dong. Terus aku merasa apes pas itu tabloid udah dibeli ternyata dari halaman depan sampai halaman terakhir nggak ada satupun berita tentang dia. Hahaha. Kasian-kasian-kasian.

Nggak cuma ngefans sama Cristiano, waktu itu film Harry Potter juga lagi naik daun. Senangnya minta ampun kalau pas buka-buka koran eh ada berita tentang Harry Potter (baik penulis ataupun pemainnya).

Kebiasaan yang aku lakukan kalau nemu foto dan berita tentang orang-orang yang aku idolakan di koran atau majalah, aku pasti bakalan gunting info itu terus kutempel di kertas HVS. Kalau sudah agak tebal, itu kujilid ke tukang fotokopi. Jadi kalau sewaktu-waktu aku merasa kangen sama tokoh-tokoh favoritku, ya lembaran-lembaran itu yang jadi pengobat rindu. Hah?

Lalu bandingkan dengan keadaan sekarang.

Nggak perlu nunggu majalah, tabloid, atau koran terbit untuk tahu kabar dari sang idola. Follow aja akun-akun media sosial yang dimilikinya. Pasti lebih update. Bahkan belum lagi kabar itu diterbitkan oleh koran atau majalah, aku sudah tahu duluan informasinya. Ahaha.

Bagiku, kehadiran media sosial saat ini memberikan banyak keuntungan. Dengan media sosial, yang sudah lama nggak ketemu sama teman waktu SD (misalnya), eh bisa ketemu lewat media sosial. Orang-orang nggak butuh lapak untuk jualan karena lewat media sosial juga bisa menjajakan barang dagangannya. Orang-orang juga bisa menyalurkan bakat dan hobinya di media sosial dan bisa dapat uang juga dari situ, seperti youtuber atau blogger. Ada juga yang ketemu jodoh lewat media sosial. Wah!

Tapi, ya tetap saja media sosial itu ada efek buruknya. Media sosial bisa bikin lupa waktu. Baik dan buruk, untung dan rugi, positif dan negatif, dua hal ini memang sahabat dekat, ya. Selalu bersama-sama. Kayak nggak mau dipisahin gitu.

Baik atau buruk itu kan penggunanya sendiri yang memilih. Sudah tahu buruk ngapain dideketin? Ngapain dilakukan? Ngapain dilanjutin? Media sosial itu seperti opium, pada kadar tertentu sangat menguntungkan dan bisa jadi obat, tapi kalau kebanyakan malah jadi racun. Jadi, harus pinter-pinter nih dalam menggunakan media sosial.



#Day5
#BPN30DayChallenge2018

Sumber gambar: www.pixabay.com
              




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lima Channel Youtube yang Sering Kutonton

Inilah Aku: 5 Fakta tentang Diri Sendiri

Review: Surat dari Kematian

Lima Kebahagiaan Sederhana

[Cerpen-DiGi Magazine Edisi 03] Mei di Bukit Hitsujiyama

Pesan Moral dari Ade Ubaidil

[Review] Twiries The Freaky Twins Diaries

Postingan populer dari blog ini

Lima Channel Youtube yang Sering Kutonton

Inilah Aku: 5 Fakta tentang Diri Sendiri

Review: Surat dari Kematian