Pesan Moral dari Ade Ubaidil
Gajah di pelupuk
mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak. Sebuah pribahasa yang masih saja sesuai untuk zaman
sekarang. Oh, kupikir tidak hanya zaman sekarang tapi juga untuk semua zaman. Sebab pasti ada orang-orang dari
setiap peradaban punya sifat seperti itu. Orang-orang yang seperti juri sebuah
pencarian bakat yang kerjanya memberikan komentar dan penilaian. Kalau juri
pencarian bakat tentulah orang-orang yang memang ahli di bidangnya. Mereka memberikan
komentar supaya peserta itu menjadi lebih baik.
Nah, kalau ‘orang-orang’
itu? Cuma menyatakan komentar yang cenderung menyakiti. Memberikan penilaian
yang cenderung menghakimi. Orang-orang yang merasa kalau pendapat merekalah
yang benar. Tuhan pasti mendukung pernyataan mereka.
Jangan terlalu
cepat menilai dan menghakimi seseorang. Buruk bagimu belum tentu buruk bagi
Tuhan. Itu pesan moral
yang kudapat ketika membaca Sepasang Sandal di Depan Pintu Neraka, yang
menjadi pembuka dalam buku kumpulan cerpen ini. Dan cerpen ini pula
menjadi salah satu cerpen yang sangat aku sukai.
Bercerita
tentang seorang adik yang yakin sekali kalau kakaknya masuk neraka. Sebab sebelum
meninggal, kakaknya sempat menenggak miras oplosan. Menurut pendapatnya juga,
kakaknya itu tidak rajin shalat apalagi mengaji. Dosanya berlipat-lipat.
Maka datanglah
dia ke neraka. Sebelum memasuki 'ruangan' neraka, ada syarat yang harus
dipenuhinya. Malaikat Malik memintanya untuk melepaskan sandal yang dipakainya.
Heran, kan?
Padahal neraka itu tempat para pendosa, pendosa itu kan kotor!
Belum lagi cerita tentang Kiai Peci Miring. Namanya Badrun Al-Syukri. Setelah bapaknya meninggal dialah yang menjadi pemimpin pondok pesantren milik orangtuanya. Tapi orang-orang di sekitarnya ada yang tak suka, tak percaya, kalau dia bakalan bisa menjadi seorang kiai panutan. Pada suatu malam, dia mengajak para santrinya melakukan ngaji jalanan. Dia menyuruh para santri untuk menunggunya di sebuah musola yang ada di dekat sebuah bar, sedangkan si kiai masuk ke bar itu. Lho? lho?
“Pandangan kalian terbatas. Pendengaran kalian terbatas. Bahkan ilmu kalian terbatas. Tetapi manusia memang munafik. Egois dan lebih senang menuduh dan menyalahkan orang lain.” –hal.32
Lalu yang menjadi judul utama, Surat yang Berbicara Tentang Masa Lalu, akan mengingatkan pembaca pada masa pemerintahan yang pernah ada di Indonesia, dimana petrus (penembak misterius) dipekerjakan untuk memberantas orang-orang yang melawan hukum. Tapi sayangnya, hukum itu terkadang tak adil, kan? Hukum beraninya sama ‘orang-orang kecil’ yang bersalah. Seberapa besarpun kesalahan yang diperbuat, hukum tak berani menyentuh orang yang punya kuasa, orang yang punya uang banyak.
“Pandangan kalian terbatas. Pendengaran kalian terbatas. Bahkan ilmu kalian terbatas. Tetapi manusia memang munafik. Egois dan lebih senang menuduh dan menyalahkan orang lain.” –hal.32
Lalu yang menjadi judul utama, Surat yang Berbicara Tentang Masa Lalu, akan mengingatkan pembaca pada masa pemerintahan yang pernah ada di Indonesia, dimana petrus (penembak misterius) dipekerjakan untuk memberantas orang-orang yang melawan hukum. Tapi sayangnya, hukum itu terkadang tak adil, kan? Hukum beraninya sama ‘orang-orang kecil’ yang bersalah. Seberapa besarpun kesalahan yang diperbuat, hukum tak berani menyentuh orang yang punya kuasa, orang yang punya uang banyak.
Ada 19 cerpen
di dalam Surat yang Berbicara Tentang Masa Lalu ini. Kesenjangan sosial
(yang memang nyata ada di bumi Indonesia), makna keluarga, cita-cita,
perjuangan, imaginatif, dan juga cinta adalah tema yang disuguhkan di dalam kumpulan
cerpen yang berhalaman 212 ini.
Lewat Jejalon
Ibu dan Sepeda Keranjang dan Pohon Kersen di dalamnya ada perjuangan
orangtua demi kebahagiaan anaknya.
Perih.
Ceritanya bikin sedih. Jadi ingat sama mamak dan ayahku. Alhamdulillah keduanya
masih sehat walafiat.
Di dalam
kumpulan cerpen ini juga ada cerita yang unik. Nggak ceritanya aja sih, tapi
cara penulis menceritakannya juga unik. Ada Bank
Endonesa yang minim narasi, dialog mendominasi. Ya, narasinya benar-benar
sedikit, selebihnya dialog, dialog, dan...dialog. Tapi aku yakin pembaca tetap
ngerti maksud dan jalan ceritanya. Ada juga nih
kisah Jari dan Cincin yang cuma satu halaman tapi kisahnya bikin baper.
Hoho...
Yah, masih
banyak lagi cerpen-cerpen menarik lainnya dalam Surat yang Berbicara Tentang
Masa Lalu yang banyak tema, penuh pesan moral dan memberikan banyak rasa
yang campur aduk (sedih, haru, bahagia, ngeri juga iya) begitu selesai membacanya.

Komentar
Posting Komentar