Review: Surat dari Kematian
Akhirnya
novel ini bisa kudapatkan. Awalnya nyari di Gramedia Plaza Medan Fair.
Rencananya makan es krim dulu setelah itu cari novel ini. Kupikir bisa sekali
jalan. Tapi ternyata buku ini nggak ada. Memang seharusnya aku cari langsung
aja ke tempat yang lebih lengkap, Gramedia Gajah Mada. Ujung-ujungnya ya harus jalan-jalan
untuk mendapatkannya.
Kenapa
milih novel ini? Apa karena terpengaruh dengan label Horor #1 on Wattpad?
No!
Waktu penulisnya membagikan cerita ini di FB, aku nggak berminat mau baca. Heh?
Karena episodenya udah ketinggalan terlalu jauh. Mau baca dari awal, kok banyak
kali rasanya. Aku lebih suka bacaan berbentuk buku fisik daripada menatap layar
lama-lama. Perih. Begitu. (Heleh..main sosmed lama-lama nggak perih, dasar
aku!)
Lalu
apa karena buku ini akan segera difilmkan?
Wow!
Mudah-mudahan jadi film horor yang keren.
Meskipun
bila di sampul novel ini nggak ada label apalah-apalah, aku tetap cari dan
beli, kok. Kenapa? Karena penulisnya. Aku sudah baca trilogy DSC (Dead Smoker
Club) yang bercerita tentang anak-anak SMA dan aku suka sama jalan ceritanya.
Nah, sekarang penulisnya buat cerita dengan genre horor. Penasaran, dong. Dari
info yang kubaca, dalam novel ini diselipkan ada yang nyata kisah horornya.
***
Apa yang akan kau
lakukan bila kau mendapatkan sebuah surat yang isinya menyuruhmu melakukan hal
aneh dan bila tidak dilakukan maka nyawamu sebagai jaminannya?
Hal itulah yang
terjadi pada Reno, seorang mahasiswa UGM. Dia nggak tahu siapa pengirim surat
itu dan bagaimana bisa surat itu ada di kamar kosnya. Dia pikir itu cuma perbuatan
teman-temannya yang iseng. Cuma prank.
Hingga pada batas
akhir waktu yang sudah ditentukan dan Reno belum juga melakukan perintah dari
surat itu, diapun hilang tanpa jejak. Hilangnya Reno bikin gempar UGM apalagi Fakultas FEB. Kepergiannya yang
tanpa jejak benar-benar membingungkan.
Selang beberapa
minggu, satu mahasiswa mengalami hal serupa tapi kali ini perintahnya berbeda.
Jika yang bersangkutan masih ingin hidup, maka dia harus menari tanpa busana di
dekat Gama Plaza sambil menyanyikan lagu Hymne UGM. Karena nggak mau mati atau
hilang kayang Reno, dia pun melakukan perintah aneh itu.
Lalu surat itu juga
mendarat di mobil salah satu mahasiswa. Perintahnya berbeda tapi intinya sama,
kalau tidak melakukan perintah itu maka dia mati. Dan di setiap akhir surat
selalu ditutup dengan kata DIE.
***
Zein dan Kinan. Dua
orang sahabat ini punya channel Youtube yang diberi nama Kinan & Zein Lit
AF. Singkatan Lit AF itu adalah Liputan Alam Fana. Mengingatkanku pada Sara Wijayanto dan Jurnal Risa.
Tempat-tempat
angker dan urban legend adalah target mereka. Lebih seringnya mereka
meliput keangkeran yang ada di kampus mereka sendiri, yaitu UGM. Pada awal bab,
aku disambut oleh Zein dan Kinan yang sedang menginvestigasi Jembatan Perawan. Jembatan
itu sebagai penghubung antara Fakultas Pertanian dan Laboratorium Fakultas
Kedokteran Hewan. Katanya di Jembatan Perawan ada hantu yang bernama Mbak
Rohana. Dia mati bunuh diri di jembatan itu.
Kinan sendiri nggak
percaya adanya hantu kalau tidak melihat secara langsung dengan mata kepalanya
sendiri. Bila ada hal aneh yang muncul di video mereka seperti bayangan atau
glitz, baginya itu cuma ilusi dan kesalahan teknis. Sedangkan Zein yang memang
bisa melihat ‘mereka’, sudah menjelaskan sejelas apapun tapi selalu ditolak
oleh pemikiran Kinan yang logis. Ujung-ujungnya mereka debat kusir dan diakhiri
oleh Zein yang mengalah.
Aku sempat kesal
sama sikap Kinan. Apalagi pas kejadian Zein yang tanpa sengaja membuka mata
batinnya. Kinan jadi sewot dan marah nggak jelas. Dia pengin lihat makhluk tak
kasat mata, tuh giliran bisa dia malah begitu sikapnya. Hebatnya, Zein itu
orangnya penyabar.
Hingga akhirnya
mereka mau mencoba tempat angker lain yang berada di luar kampus UGM yaitu Gama
Plaza yang terlantar. Desas desusnya bangunan itu angker. Katanya dua tahun
lalu ada yang gantung diri di lantai 4 gedung itu, bernama Darius. Kenapa bunuh
diri? Katanya (lagi) karena dia sering dirundung oleh teman-temannya. Ada juga
yang bilang karena dia stres dengan beban tugas kuliah. Dan lebih seramnya lagi setelah jasad Darius ditemukan, ada kuntilanak yang sering berkeliaran di gedung itu.
Dan gara-gara rumor
Darius bunuh diri karena tugas kuliah, seorang dosen mata kuliah yang
bersangkutan mengalami stroke dan berhenti menjadi dosen karena (mungkin) beliau
merasa bersalah. Bagian ini bikin aku sedih. T_T
Teror surat aneh
itu ternyata ada hubungannya dengan ini. Saat Zein meneliti isi surat itu, Zein
meyakini kalau DIE itu adalah singkatan nama lengkap Darius, bukan die yang
artinya mati. Dan lagi, surat itu ditulis tangan. Zein pun mencari tulisan
tangan milik Darius dengan bantuan teman sekelas Darius. Eh ternyata sama! Nah,
lho?
Apa arwah Darius nggak tenang lalu bikin teror ke orang-orang yang pernah bermasalah dengannya?
Zein bilang bisa
jadi ada dendam Darius yang harus dituntaskan. Tapi Kinan berpikiran lain,
nggak mungkin itu ulah hantu. Jadilah, Kinan dan Zein berusaha untuk mengungkapkan
misteri itu, sekalian untuk konten channel youtube mereka.
Zein dan Kinan pun
mencari informasi tentang Darius, Reno, orang-orang terdekat mereka dan
orang-orang yang mendapatkan surat itu. Dari keterangan Lidia, teman Darius,
Lidia nggak percaya kalau Darius mati bunuh diri. Meski Darius itu orangnya
introvert, nggak mungkinlah Darius melakukan hal itu. Lidia meyakini kalau
Darius itu pasti dibunuh.
Oh, iya, peristiwa
ditemukannya mayat Darius itu kan dua tahun yang lalu, ya. Nah, sayangnya
ibunya Darius nggak ingin jasad anaknya diotopsi. Beliau ingin anaknya segera
dikuburkan saja. Jadi, ya itu salah satu penyebab tidak jelasnya Darius bener-bener
gantung diri atau dibunuh.
Tapi dari
keterangan Joe, teman Reno, dia mengatakan kalau Darius itu nggak sebaik yang
orang-orang kira.
Banyak hal-hal yang
susah ditebak dan diterima akal sehat. Kasus surat aneh itu memang sudah ditangani
oleh pihak polisi tapi Zein dan Kinan tetap berusaha ingin memecahkan kasus
itu, dengan cara mereka sendiri. Karena terlalu dianggap ikut campur, Kinan
sempat beberapa kali mengalami sendiri kejadian gaib, seperti didatangi
langsung oleh Darius baik di mimpi maupun di dunia nyata, yang membuatku merasa
ikut mengalami apa yang dialami oleh Kinan.
Tiap satu lembar
cerita yang kubaca, aku mendapatkan satu puzzle. Harus baca semuanya,
jangan ada yang terlewati. Kalau dilewatkan, kau tidak akan tahu bentuk lengkapnya
seperti apa dan akan bingung sendiri nantinya. Setelah semua puzzle terkumpul, maka
semua teka-teki itu bisa dijawab. Menjelang akhir cerita barulah pembaca akan
memahami tentang hal yang sebenarnya terjadi. Kisah horornya sangat kental
dibarengi dengan kisah misterius ala detektif.
Ada pesan moral
yang kupetik dari cerita ini. Meski sulit memaafkan kesalahan orang lain, tapi
itu tidak boleh terlalu lama dibiarkan di dalam hati karena rasa sakit itu bisa
menimbulkan dendam. Dendam itu berbahaya, bukan menyelesaikan masalah tapi
malah menciptakan masalah baru. Kita juga diingatkan untuk jangan iri pada
orang lain, karena iri bisa membuatmu tega menyakiti orang lain dan di saat kau
menyadari kesalahan itu barulah menyesal. Dan menyesal di akhir itu nggak ada
gunanya.
Aku baca buku ini
di saat malam. Aku nggak bisa tidur waktu itu. Ujung-ujungnya aku beneran nggak
bisa tidur. Pertama, karena aku merasa takut, iya beneran. Untungnya besoknya
hari libur jadi siangnya aku bisa tidur sampe puas. Kedua, karena penasaran sama
kelanjutan dari cerita ini.
Begitupun waktu aku
ngetik review ini di malam hari juga. Aku merasa nggak nyaman. Entah kenapa. Padahal ditemenin sama ada kucingku. Nah, itu dia, yang bikin nggak nyaman itu mata si Ucil kucingku yang lirik sana lirik sini. Merasa horor sendiri. Haha...
Oh, iya, aku penasaran
kira-kira nanti di filmnya, lagu milik Hutan Kayu yang berjudul Lagu Pilu untuk
Yang Terkasih bakalan beneran dibuat nggak, ya? Liriknya itu memang sungguh memilukan.
??Tanda
Tanya??
Novel dengan judul Surat dari Kematian ini memang novel horor yang seram dan bikin ngeri. Tapi ada lho beberapa hal di dalamnya yang bikin aku bertanya-tanya. Bukan berarti novel ini buruk. No!
⇒ Setelah
membaca buku ini sampai tamat, pertanyaan pertama yang terus ada dipikiranku
itu, Renata kemana? Sebagai orang yang pernah dekat sama Darius, apakah dia
jadi nggak penting setelah Darius pergi? Sebenarnya aku sempat terkecoh di
halaman 196. Kirain yang dikubur itu Renata. Soalnya salah satu cirinya kayak
dia.
⇒ Tentang
terali besi di kamar Reno. Antara halaman 156 dan 359 itu keadaannya berbeda. Dan
itu aneh sih menurutku. Yang satu ada, yang satu nggak ada.
⇒ Di
halaman 201 ada dialog antara Zein dan Aldi. Tapi kemudian menjadi Andi. Pasti
ini salah ketik. Seharusnya Aldi, bukan Andi. Ada juga tokoh yang bernama Andi
dan mereka memang lagi membicarakan si Andi.
⇒ Ada
beberapa typo, seperti:
perempan
(hal.88)
sedemkian
(hal.100)
musryik
(207)
ekstrakulikuler
(354)
Kumpulan
Quote
⇒ “Terlebih,”
lanjut Zein, “kita selalu punya Tuhan yang menjadi tempat perlindungan. Kita
akan baik-baik saja.” (hal.128)
⇒ Cuma
gara-gara ego dan tidak ingin terlihat lemah, ia malah kehilangan sahabatnya
sendiri. (hal.217)
⇒ Bukankah
di saat terjepit manusia jadi lebih kreatif? (hal.260)
⇒ Waktu
tidak akan berkhianat bagi mereka yang bijaksana menjadikannya sebagai sahabat.
(hal.297)
⇒ “Lihat
akibat kalau lo bisanya cuma marah doang, bisanya cuma balas dendam doang! Lo bahkan
jadi nggak kenal lagi sama saudara, sama keluarga, sama gue...” (hal.345)
⇒ “Cuma
cinta yang bisa menggerakkan seseorang untuk melakukan apa pun juga.” (hal.363)
↼↼⇀⇀
Judul :
Surat dari Kematian
Penulis : Adham T. Fusama
Penerbit : Falcon Publishing
Cetakan : Pertama, November 2018
ISBN : 978-602-6714-40-4
↼↼⇀⇀




Komentar
Posting Komentar