Madagascar dan Perjuangan Mirindra
Judul : Sebiru Safir Madagascar
Penulis : Haya Nufus
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Cetakan : Pertama, Januari 2016
ISBN : 978-602-1614-53-2
Seperti safir biru
yang harus mengalami berbagai proses panjang untuk bisa menjadi sebuah perhiasan yang cantik dan harganya mahal. Maka, proses yang dilalui Mirindra
juga panjang, melelahkan, dan ... pakai air mata. Terus aku yang baca novel ini
ikutan nyesek mendekati mewek T_T
![]() |
Novel ini mengambil
setting di Madagascar. Ya, sebuah negara yang merupakan bagian dari Benua
Afrika. Tempat dimana pohon-pohon raksasa seperti Baobab tumbuh subur. Dan aku
jadi inget serial kartun The Penguins of Madagascar, yang salah satu
tokohnya itu si Raja Lemur yang narsis dan angkuh, King Julien XIII. :D
![]() |
| www.genesisresearchtrust.com Pohon Baobab |
![]() |
| www.lifeonlifejacket.com Raja Lemur. Oh iya, Madagascar dan Lemur itu hal yang nggak bisa dipisahkan, lho. Ada hubungan yang erat dari keduanya. |
Lewat novel yang berjumlah 288 halaman ini, aku jadi tahu kalau Madagascar lebih dari itu. Sebenarnya Madagascar itu kaya raya, lho. Tanahnya menyimpan banyak batu-batu mulia cantik nan mahal seperti ruby dan safir. Madagascar juga memiliki Rosewood atau boise de rose. Itu adalah kayu dengan kualitas tinggi yang sering diincar oleh kolektor dan orang-orang kaya.
Tapi ya gitu. Yang
pertambangan batu mulia dikuasai pihak asing, yang rosewood sering jadi 'korban' illegal logging.
Kau yang punya banyak harta tapi orang lain yang menikmatinya.
Kau yang punya banyak harta tapi orang lain yang menikmatinya.
Banyak orang-orang
Malagasy yang hidupnya gak mewah dan serba kekurangan. Ya, seperti yang dialami
Mirindra. Neny-nya meninggal saat dia berumur tujuh tahun karena sakit. (Sebutan
ibu di Madagascar itu neny dan kalau ayah itu dada. Yes, membaca
bisa nambah pengetahuan bahasa dari negara lain, kan. Yuk, rajin baca.)
Pekerjaan Dada Mirindra adalah
seorang penambang yang jarang di rumah. Lokasi pertambangan itu sangat jauh,
jadi nggak memungkinkan kalo pergi-pulang dalam satu hari. Tentu saja sebagai
orang tua, dia sangat khawatir dengan keselamatan putrinya. Maka, dia
memutuskan untuk ‘menitipkan’ Mirindra di Akany Tafita, sebuah sekolah gratis
untuk orang-orang yang tidak mampu. Di Akany Tafita, dia bisa belajar, mendapat
teman baru, makanan yang layak, dan dia juga bisa menginap di sana selagi dada-nya
berada di pertambangan.
Di Akany Tafita dia
mendapat semangat belajar luar biasa dari Tinah, pemilik sekolah. Tinah pula
yang menemukan bakat Mirindra yang bisa berbahasa asing. Bocah Malagasy itu
suka sekali meniru percakapan-percakapan dari berbagai bahasa yang didengarnya melalui radio.
Aku menyerap bahasa
seperti pasir menyerap air (hal.42)
Tinah juga
mengundang orang-orang sukses untuk menularkan semangat mereka pada anak-anak
yang belajar di Akany Tafita. Orang-orang yang tadinya terpuruk, berjuang lalu
sukses. Dan Mirindra tertular semangat mereka. Apalagi Tinah juga sering
menceritakan tentang Josse, adik laki-laki Tinah, yang telah sukses, yang
pernah mendapat beasiswa. Mirindra ingin sekali bisa sekolah di luar negeri.
Kedatangan Josse sangat dinanti-nantikannya. Dia sangat ingin mendengar cerita
Josse, cara-cara yang dilakukan Josse hingga bisa sukses seperti sekarang.
Tapi, saat Josse datang dan langsung berhadapan dengannya, Mirindra malah
ingin jauh-jauh dari Josse. (Ilfeel ya, Mir,
ilfeel. Aku juga sih. Banget malah!)
Ya, yang namanya berjuang tentu
banyak batu rintangan yang harus dihadapi. Untuk menambah penghasilan dan
membantu dada-nya, dia berjualan sayuran di Pasar Pavion, juga menjadi
seorang pemandu wisata paruh waktu. Dia
harus tahan sama hinaan orang lain, dia harus kuat saat rumahnya hancur terkena
terjangan badai cyclone, dia harus tabah saat satu-satunya orang yang
menjanjikan dia untuk membiayainya kuliah di luar negeri, malah meninggal dunia.
L
Tapi Mirindra memiliki dada
yang hebat. Meski orangtua itu terlihat kaku dan tak banyak bicara, dia tetap
ingin kehidupan Mirindra lebih baik darinya.
“Kita memang kecil, Rindra. Namun
ada kekuatan besar yang akan menolong jika kau berdoa. Allah! Kau tahu, kan?
Berdoalah apa saja, minta pada-Nya.” (hal.184)
Itu quote manis dari dada-nya
Mirindra. Terharuuu!
Penduduk Madagascar juga ada yang baragama Islam. Mirindra dan keluarganya menganut agama itu. Dada-nya rajin mengerjakan solat lima waktu dan dia juga menginginkan agar putrinya memakai jilbab, menutup aurat. Mirindra juga ingin demikian tapi dia juga nggak mau orang-orang di sekitarnya menganggap dia aneh.
Penduduk Madagascar juga ada yang baragama Islam. Mirindra dan keluarganya menganut agama itu. Dada-nya rajin mengerjakan solat lima waktu dan dia juga menginginkan agar putrinya memakai jilbab, menutup aurat. Mirindra juga ingin demikian tapi dia juga nggak mau orang-orang di sekitarnya menganggap dia aneh.
Novel ini memakai sudut pandang
orang pertama, jadi aku kayak lagi dengerin Mirindra menceritakan tentang kisah
hidupnya. Aku merasa ikut masuk ke dalam ceritanya. Seperti saat dia
jalan-jalan ke Palais du Rova, saat Mirindra ikut ke tempat ayahnya bekerja,
dan saat dia menjadi seorang pemandu di Lemur Park. Pastilah riset untuk novel
ini sungguh-sungguh. Baca profil penulisnya, ternyata Kak Haya memang tinggal
di Madagascar. Wow!
![]() |
| zatours-madagascar.com Palais du Rova. Ada sejarah tentang Madagascar di tempat itu. |
![]() |
| www.redd-monitor.org Dada-nya tak mengizinkan dia ikut ke lokasi penambangan. Tapi Mirindra memaksa. |
Tapi menurutku, perjuangan Mirindra
itu belum usai. Jadi kalo endingnya seperti itu malah bikin penasaran dan masih meninggalkan tanda tanya besar dipikiranku. Ada lanjutannya gak, ya?






Komentar
Posting Komentar