[Cerpen-DiGi Magazine Edisi 03] Mei di Bukit Hitsujiyama


Ya, akhirnya cerpenku ini bisa diterima oleh Digi Magazine :D tepatnya Edisi 03 bulan Agustus lalu. Aku mengirim cerpen ini dari bulan Mei. Durasi menunggunya itu sampai tiga bulanan. Sempat juga terpikir untuk menarik cerpen kalau tidak muat juga :D #dasar gak sabaran.
Ada beberapa bagian yang diedit di cerpen ini. Tapi yang kuposting sekarang ini versi aslinya. 
***



Ini awal Mei dan aku suka dengannya. Ada dua alasan mengapa aku sangat senang menyambutnya. Pertama, karena inilah saatnya bunga-bunga shibazakura yang ada di Bukit Hitsujiyama bermekaran. Ada warna merah magenta, merah muda, juga ada yang berwarna biru muda dan putih. Tetapi tetap saja warna merahnya itu mendominasi. Jika dilihat dari kejauhan, Bukit Hitsujiyama seperti dilapisi dengan permadani warna merah muda. Dan pegunungan Daisetsuzan yang puncaknya tertutup salju membuat latar belakang Bukit Hitsujiyama menjadi sangat menarik. Tak heran jika musim panas tiba, tepatnya antara April dan Mei, bukit ini selalu ramai.
Dan alasan kedua adalah karena dia. Sesuai janjinya, aku akan bertemu lagi dengannya hari ini di sini, di bukit Hitsujiyama, di awal Mei, tepat di saat bunga-bunga shibazakura bermekaran. Di sini pula pertama kali bertemu dengannya. Sejak pertemuan yang tidak disengaja itu, hatiku terserang virus merah jambu, semerah jambu bunga-bunga shibazakura yang ada di Bukit Hitsujiyama.
***
“Permisi. Boleh minta tolong?” Seorang gadis berambut hitam dan ikal yang diikat kuncir satu ke belakang menyadarkanku dari lamunan. Angin membuat beberapa helai rambutnya yang tak ikut diikat melambai-lambai di wajahnya yang seputih susu. Matanya bulat, irisnya berwarna cokelat tua, dan alis hitamnya membingkai dengan sempurna di atas kedua matanya.
“Bo..boleh,” jawabku sedikit gugup.
“Tolong ambilkan fotoku.” Cewek berjaket merah menyala itu membungkuk memohon dihadapanku sambil menyerahkan kameranya. Kuambil kamera itu. Bibirnya mengukir senyum. Sial! Cantik sekali.
Dia melihat sekelilingnya, mencari posisi yang pas. “Mungkin kau bisa berdiri di situ, dengan pegunungan Daisetsuzan sebagai latarnya,” saranku. Cepat sekali aku akrab dengannya.
“Aku juga ingin hamparan bunga-bunga shibazakura ini menjadi latarnya,” pintanya. Dia tersenyum lagi. Aku melihatnya dari lensa kamera. Kucari posisi yang dia minta.
“Ya, aku sudah mendapatkannya. Hamparan bunganya kena, pegunungan Daisetsuzan juga dapat. Kau bisa berdiri di situ.” Gayaku sudah seperti seorang fotografer saja. Dia mulai berpose. Aku suka gayanya. Sederhana tapi anggun dan tetap kelihatan elegan. Dia kelihatan puas saat melihat hasil potretanku. Tak lupa ucapan terima kasih keluar dari bibirnya yang merah dan mungil.
Seusai itu, kami berjalan-jalan menyusuri jalan setapak yang berkelok-kelok di sekitar Bukit Hitsujiyama sambil berdialog ringan. Dia bilang dia selalu sendirian jika datang ke sini. Aku sempat heran apakah dia tak punya teman?
 “Banyak. Terkadang ada saatnya sesuatu itu kulakukan sendiri dan aku lebih senang melakukannya sendiri,” jelasnya.
Hari hampir senja. Sebelum berpisah, untung saja aku tidak lupa menanyakan siapa namanya.
“Mei. Mei Shibazakura. Aku lahir di bulan Mei, tepat di saat bunga-bunga shibazakura bermekaran.” Mei tersenyum manis kearahku. Aku terpesona.
Maka setiap awal Mei, aku selalu berkunjung ke Bukit Hitsujiyama, untuk bertemu lagi dengan Mei.
***
Mei, aku menunggumu di sini, di Bukit Hitsujiyama, di antara bunga-bunga shibazakura yang bermekaran. Kenapa kau lama sekali? Bukankah kau akan datang pukul dua, dan sekarang sudah pukul tiga. Kau terlambat satu jam, Mei.
Kuperhatikan orang-orang yang lalu lalang di hadapanku. Mataku siap siaga jika ada seorang wanita yang memakai jaket kulit warna merah tua. Mei akan memakai pakaian warna itu katanya. Seketika retinaku menangkap sebuah bayangan. Kulihat di ujung jalan setapak sana, ada seorang wanita yang memakai pakaian berwarna merah. Aku belum bisa melihat wajahnya dengan jelas karena pandanganku beradu dengan sinar matahari. Kucoba memicingkan mata. Saat aku mulai melihatnya dengan jelas, senyumku surut. Dia bukan Mei. Hanya seorang wanita yang memakai pakaian yang warnanya sama. Sayang sekali ponselku ketinggalan. Kalau tidak, aku kan bisa menghubunginya.
Kuambil sebuah kotak kecil dari saku jaketku. Kubuka dan sedikit kuintip untuk memastikan kalau isinya masih ada dan keadaannya masih seperti yang kupesan. Aku akan melamarnya hari ini. Dua tahun sudah aku mengenalnya. Dan bagiku itu waktu yang lebih dari cukup untuk memahaminya.
Mei. Aku selalu tersenyum jika mengingatnya. Aku bisa mengingat detail wajahnya meski dengan mata terpejam. Dengan jari telunjuk tangan kananku, kulukis wajahnya di antara angin-angin yang berhembus lembut. Aku menarik napas panjang dan tersenyum lagi. Kubuka mata. Hamparan bunga-bunga shibazakura masih menjadi objek pandangan mataku. Belum ada tanda-tanda kalau Mei sudah datang.
Tunggu! Aku melihat seorang wanita berbaju merah di dekat pohon ceri yang tidak jauh dari tempat aku duduk. Itu Mei? Aku tidak bisa melihat wajahnya karena dia membelakangiku. Aku yakin itu Mei. Aku hapal postur tubuh dan ciri khasnya. Rambut ikal yang hitam legam dan selalu diikat kuncir satu. Tapi, kenapa Mei menggandeng pria lain? Siapa pria kurang ajar itu? Dadaku sesak bergemuruh. Aku segera bangkit untuk menjumpai Mei dan memberi perhitungan kepada laki-laki itu. Aku tidak terima tangan Mei menggelayut mesra di lengannya. Mei itu milikku. Hanya milikku!
Kupegang pundak wanita yang kuyakin dia adalah Mei. Wanita itupun segera memutar badannya ke hadapanku. Dia tercengang dan aku kaget. “Kau?” tanyanya heran sambil mengacungkan telunjuknya ke arahku. Aku segera melepaskan cengkaraman tanganku dari pundaknya.
“Ada apa, Bung?” tanya laki-laki yang berada di sampingnya, sedikit tidak senang. “Kau kenal pacarku??” tanyanya sinis.
“Maaf..aku salah orang,” ucapku tergagap. Untung dia tidak menonjokku.
“Orang gila!!” seru laki-laki itu memaki. Mereka pun berlalu dari hadapanku.
Aku salah orang lagi. Kupikir wanita itu adalah Mei. Dari belakang mereka mirip sekali. Aku kembali duduk selonjoran di bawah pohon Yoshino Cherry, tempat aku duduk tadi. Kutarik napas panjang guna memadamkan rasa cemburuku yang hampir membara hebat.
 “Keiji...Keiji...”
Sepertinya seseorang memanggil namaku. Suara wanita. Indera pendengaranku mencari-cari sumber suara itu. Mungkin saja itu Mei. Bibirku kembali mengukir senyum. Kuraba kotak kecil yang kusimpan di dalam saku jaketku.
Saat aku menoleh ke arah suara itu, seketika itu pula semangatku kembali padam saat kutahu bahwa pemilik suara itu bukanlah Mei. Itu Ibu dan di belakangnya ada Hiroshi. Kenapa Ibu ada disini bersama kakak laki-lakiku? Mau apa mereka berdua? Aku membuang muka. Pasti ibu akan menyuruhku pulang dan melupakan Mei. Dia selalu melarangku untuk memikirkan dan menemui Mei. Wajahku berubah masam.
Ibu meraih tanganku. “Ayo pulang, Nak. Apa yang kau lakukan disini?”
“Aku menunggu Mei, Bu,” jawabku datar. Ibu mengalihkan wajahnya kepada Hiroshi. Bermimik pilu. “Untuk apa lagi kau tunggu wanita itu?” tanya Hiroshi. “Sadarlah, adikku. Dia tidak akan pernah datang. Ayo kita pulang. Kau dari pagi berada disini. Kau tidak lapar?”
 Aku menggeleng. Aku tidak merasa lapar, tapi aku merasa rindu. Kutepis tangan Hiroshi yang sedari tadi memegang lenganku.
“Biarkan aku melamar Mei, Bu. Jangan halangi aku lagi. Kumohon!” Aku bersungguh-sungguh. Kulihat mata bening Ibu mulai berkaca-kaca. Entah apa yang membuatnya sedih.
“Sadar, Kei! Jangan terus seperti ini. Mei sudah meninggal!” tegas Hiroshi.
Mataku melotot ke arahnya. Aku benci sekali jika dia mengucapkan kata-kata itu. Kudorong tubuh Hiroshi hingga dia jatuh terjengkang ke belakang. Kututup kedua telingaku rapat-rapat dengan kedua tanganku. Kepalaku menggeleng-geleng, tidak terima atas ucapannya. Air mataku mengalir. Ibu memelukku, mengusap-usap pundakku.
Aku benci dengan kenyataan itu. Aku tak suka Hiroshi menyadarkanku. Aku berang mengingat kabar yang memberitakan sebuah kecelakaan kereta api dua bulan yang lalu. Aku berteriak sekuat-kuatnya, membuat berpasang-pasang mata pengunjung tertuju ke arahku.
Aku bertemu dengan Mei di bukit ini, maka aku juga akan menunggu kehadirannya lagi di sini. Biarkan aku menunggunya di sini, di Bukit Hitsujiyama, di antara bunga-bunga shibazakura yang bermekaran.
***
Nah, kalau mau lihat versi editan dari Digi, boleh lihat di sini :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lima Channel Youtube yang Sering Kutonton

Inilah Aku: 5 Fakta tentang Diri Sendiri

Review: Surat dari Kematian

Lima Kebahagiaan Sederhana

Pesan Moral dari Ade Ubaidil

[Review] Twiries The Freaky Twins Diaries

Postingan populer dari blog ini

Lima Channel Youtube yang Sering Kutonton

Inilah Aku: 5 Fakta tentang Diri Sendiri

Review: Surat dari Kematian