Yang Tidak Pernah Dibalas



     “Menurutmu mengapa seseorang tidak membalas pesan yang kau kirimkan padanya?”

       Aku berhenti mengunyah keripik kentang yang penuh sesak di dalam mulutku. Tinggal dua kunyahan lagi maka keripik kentang ini siap meluncur masuk ke dalam perutku. Kuperhatikan raut wajahnya. Tatapan matanya seperti tak ada nyawa, bibirnya menekuk ke bawah. Kuminum jus apel yang tinggal sedikit untuk membantu keripik kentang yang sudah hancur ini agar masuk ke tahap selanjutnya di lambungku. Kutepuk-tepuk tanganku untuk menghilangkan bumbu kentang goreng yang menempel.

      Aku mulai berpikir. Jawaban apa yang harus kuberikan untuk pertanyaannya itu. Bagiku, nggak apa-apa sih kalo orang tidak mau membalas pesanku. Tapi memang akan berbeda jika yang dikirimi pesan adalah seseorang yang engkau harapkan.

       “Mungkin dia belum sempat membaca pesanmu. Bisa saja dia sibuk,” jawabku.

                “Pesanku sudah bertanda ‘Dilihat’,” lanjutnya tak semangat. “Bahkan dia mengunduh cerita di akunnya pada saat itu juga.”

                  “Pesan apa yang kau kirim padanya?” tanyaku.

                 “Selamat ulang tahun.”

           “Mungkin dia kaget tiba-tiba kau mengiriminya selamat ulang tahun. Kalian sangat-sangat jarang berkomunikasi. Atau dia sudah lupa kau itu siapa, jadi ya nggak penting juga untuk diberi -paling tidak- ucapan terima kasih,” jawabku santai.

               “Aku hanya mencoba.”

               “Dan ternyata tidak ada tanggapan, kau pasti sudah tau itu kan?”

              “Aku hanya mencoba mencari kesempatan lagi,” ucapnya. Sebenarnya kesempatan itu datang berapa kali sih? Dia dan temannya yang berulang tahun itu saja belum pernah mencoba, belum pernah saling mengatakan isi hati mereka. Cuma saling diam.

            “Karena aku malu, kuhapus pesanku yang kuketik untuknya,” katanya lagi.

            “Sudahlah. Tidak usah mencari-cari kesempatan lagi. Anggap sudah tidak ada kesempatan lagi, meski belum pernah mencoba. Bagaimana jika ternyata sudah ada seseorang yang menempati hatinya?” Ya, itu dulu coba dipikirkan.

            Dia mengangguk-angguk. Lalu tersenyum. Begitu mudahnya moodnya itu berubah?

            “Kau tau, sebenarnya jawaban-jawabanmu itu tidak terlalu menghiburku. Tapi terima kasih kau sudah mau mendengarkanku, dan merespon keluh kesahku.” Ya begitulah. Aku pun juga mencoba. Mencoba menghiburnya.

            “Kau mau kutraktir apa?” tanyanya. Pertanyaannya membuat senyumku mengembang lebar.

            “Kentang goreng tidak membuatku kenyang, aku mau dimsum.”

            “Ya, boleh. Aku nggak mau pesan dari online. Ayo kita cari sambil jalan-jalan.”

            Kuperhatikan dia yang sedang mengobok-obok isi dompetnya. Kau bersabarlah.   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lima Channel Youtube yang Sering Kutonton

Inilah Aku: 5 Fakta tentang Diri Sendiri

Review: Surat dari Kematian

Lima Kebahagiaan Sederhana

[Cerpen-DiGi Magazine Edisi 03] Mei di Bukit Hitsujiyama

Pesan Moral dari Ade Ubaidil

[Review] Twiries The Freaky Twins Diaries

Postingan populer dari blog ini

Lima Channel Youtube yang Sering Kutonton

Inilah Aku: 5 Fakta tentang Diri Sendiri

Review: Surat dari Kematian