Cara Menghukum Orang Jahat
“Hukuman penjara itu tidak cocok bagi mereka yang sudah bersenang-senang menggunakan uang yang bukan haknya!”
Tiba-tiba saja dia datang ke kamarku
tanpa mengetuk pintu, tanpa bertanya apakah aku ada di dalam. Suaranya
menggema, memantul-mantul pada setiap dinding putih kamarku. Dia duduk di
sampingku tapi tidak menoleh sedikitpun ke arahku. Baiklah, mungkin ini
waktunya aku mendengarkan celotehannya dan bisa saja sesekali aku juga curhat
padanya. Aku menghentikan kegiatan membacaku sebentar.
Kututup buku setelah sebelumnya sudah kutandai dengan cara melipat ujungnya pada halaman 27. Dalam kondisi mendadak, aku melakukan hal itu. Meski sebenarnya aku tidak tega melakukannya pada buku ini.
Kututup buku setelah sebelumnya sudah kutandai dengan cara melipat ujungnya pada halaman 27. Dalam kondisi mendadak, aku melakukan hal itu. Meski sebenarnya aku tidak tega melakukannya pada buku ini.
“Selain masuk penjara, mereka itu
juga didenda dengan jumlah uang yang banyak. Dan tentu saja, barang-barang yang
bukan milik mereka itu sudah disita oleh negara,” kataku.
“Itu tidak cukup!”
Nah, kan, dia mulai menepis hal-hal
yang kukatakan lalu dia akan tanya kenapa aku seolah-olah membela mereka.
“Aku tidak seolah-olah membela,
menurutku hukuman itu sudah setimpal untuk mereka.” Sekarang aku yang mulai
membela diriku sendiri.
“Sudah kubilang itu tidak cukup!”
Ucapnya sambil memukul kasur tidurku dengan
keras. Sehingga aku bisa melihat debu-debu beterbangan di depan wajahku
dan di depan wajahnya. Aku jadi ingat, sudah hampir setahun aku belum menjemur
kasurku di bawah terik matahari, tapi aku mulai ragu apa iya hampir setahun.
Kayaknya lebih.
“Lalu apa yang pantas?” akhirnya aku
bertanya.
“Kau tahu, bahkan di dalam penjara
pun mereka masih bisa tidur di atas kasur yang empuk. Perkakas di dalam penjara
tempat mereka mendekam lebih bagus daripada perkakas yang ada di kamarmu ini!”
Dasar! Dia itu secara tidak langsung menghina
isi kamar tidurku. Tapi, aku tidak peduli, sih.
Kulihat ada api yang menyala hebat
di mata dan di mulutnya. Sepertinya, kalau mereka itu ada di hadapannya, dia
akan menyemburkan api yang menyala-nyala di mulutnya itu ke arah mereka.
“Lalu hukuman apa yang pantas untuk
mereka?” tanyaku lagi. Kuperhatikan salah satu sudut bibirnya terangkat dan kedua
matanya menyipit. Pasti di dalam kepalanya itu dia sedang memikirkan hal-hal
aneh dan ekstrim. Jangan tanya darimana aku tahu. Lima tahun itu bukan waktu
yang sebentar, kan, untuk mengenal kebiasaan-kebiasaan orang yang dekat
denganmu.
“Kau masih ingat tentang film yang
kubicarakan seminggu yang lalu?”
Entah kenapa tanpa susah payah memoriku
bisa langsung menemukan slide kejadian tujuh hari yang lalu. Waktu itu, dia
dengan hebohnya mengajakku menonton film yang dimaksud. Dia bilang dia baru
saja menemukan film yang tidak baru tapi sepertinya seru. Aku belum pernah
menonton film itu. Aku curiga kalau itu film yang aneh, dari judulnya saja
sudah aneh dan dia juga aneh.
“The Human Centipede?” tanyaku untuk
memastikan.
Maka aku mencari informasi dan
membaca ulasan-ulasan tentang film itu dengan bantuan internet. Juga ada
potongan-potongan filmnya di Youtube. Baru baca ulasannya saja perutku sudah
terasa mual dan kepalaku mulai pusing. Apalagi nanti jika aku menonton filmnya
secara utuh.
“Pengecut.”
Itu komentarnya saat aku menolak
ajakannya untuk menonton film itu.
Lalu dia tertawa sambil menutup mulut dengan
kedua telapak tangannya. Oh, jangan-jangan dia jadi ikutan gila gara-gara
menonton film itu. Bukan. Bukan gara-gara film itu. Dari awal aku bertemu
dengannya dia kan memang sudah gila.
“Kupikir kau tidak jadi menontonnya.”
“Aku sudah menghabiskan banyak kuota
internet, masa tidak ditonton. Kau tahu, akhirnya aku juga mengunduh yang kedua
dan ketiga. Aku sudah menonton semuanya. Kau belum, kan? Haha...”
Kelihatannya dia bahagia sekali dan
merasa spesial karena dia lebih berani dibandingkan aku.
“Itu hukuman yang tidak manusiawi.”
Aku mengembalikan topik pembicaraan.
“Oh, ya? Aku benci manusia!”
“Hei, aku manusia. Apa kau juga
benci aku?”
Dia pergi begitu saja. Keluar lewat
jendela. Saat angin berhembus kencang, dia ikut terbang dan kemudian menghilang.
Dan aku tidak lagi heran bila besok ada berita tentang seorang pejabat negara
yang korupsi dikabarkan tewas mengenaskan di selnya sendiri.
Itu masih mending
sih menurutku. Jasadnya nampak ada di tempat. Kebanyakan dari mereka yang
disebutnya jahat, biasanya akan dibawanya pergi entah kemana yang aku sendiri
tidak tahu.
Sampai kapan aku simpan semua
rahasia ini?

Komentar
Posting Komentar