Review : Gerimis di Atas Kertas



Ada tiga cerita di dalam buku yang berjumlah 200 halaman ini. Gerimis di Atas Kertas adalah salah satu judul di antara ketiga cerita tersebut. Pertama kali membaca judulnya, kupikir cerita itu akan dipenuhi dengan kesedihan. Padahal tidak selamanya yang namanya gerimis ataupun hujan adalah lambang dari kesedihan. Justru itu adalah rahmat dari Tuhan, kan.

Tiga cerita di dalam buku ini memakai dua sudut pandang. Dua cerita cerita memakai sudut pandang orang pertama, yaitu aku. Dan cerita yang satunya lagi memakai sudut pandang orang kedua, yaitu kamu. Aku suka kalau ada cerita yang sudut pandangnya itu kayak begitu, sudut pandang orang kedua. Dulu waktu sekolah tahunya cuma sudut pandang orang pertama dan ketiga.

Tiga cerita itu mengambil latar tempat di Lombok. Ada beberapa kalimat yang menggunakan bahasa Sasak. Bahkan ada sejarah kota Ampenan di dalamnya. Ya, salah satu cerita itu ada yang berpusat di Kota Ampenannya. Ketiga cerita itu juga menggambarkan betapa indahnya pantai dan keragaman budaya yang ada di Lombok. Dari sebuah buku, aku bisa ‘jalan-jalan’ ke suatu wilayah tanpa harus beranjak dari tempat duduk. Bakalan lebih seru kalau mengunjungi tempat aslinya sih sebenernya. Hehe.

Tiga cerita bertemakan cinta dan kehidupan anak muda yang dibangun dengan apik dan elegan. Kisah cinta antara laki-laki dan perempuan menjadi yang terdepan, tentang rindu, dan tentang kesetiaan. Dan di antaranya juga ada rasa cinta anak-anak muda tersebut terhadap lingkungan sekitarnya. Mereka peduli pada anak-anak di Lombok yang putus sekolah sehingga membuat komunitas untuk berbagi ilmu dan buku-buku. Jadi kisah cinta itu tidak membosankan.

Uniknya dari tiga cerita itu, antara tokoh cerita pertama, kedua, dan ketiga, ada sedikit bersinggungan. Karena waktu baca cerita kedua, ada tokoh dari cerita pertama yang dihadirkan. Begitu juga di cerita ketiga ada tokoh dari cerita kedua. Tapi itu tidak begitu berpengaruh sih sama isi dari masing-masing cerita.

Di dalam buku ini pula, aku merasa diajarkan oleh Hasyim dan Kak Fajar tentang bagaimana menulis cerita. Menarik. Aku tidak hanya membaca tentang kisah cinta tapi juga mendapatkan ilmu tentang menulis.

btw ceritanya tentang apa?

Cerita pertama: Menunggu Ayu
Hasyim bersama dua temannya membangun Rumah Baca Pesisir. Mereka menjadi relawan, mengajar dan membantu anak-anak pinggir pantai yang kurang mampu. Di sela kegiatannya itu pikirannya masih terjebak pada seseorang di masa lalu. Membuatnya tak bisa melihat kalau di sekitar dia, juga ada seseorang yang menunggunya.

Cerita kedua: Gerimis di Atas Kertas
Namanya Loresta Nusantara. Tapi lebih dikenal dengan nama Tata. Dia memutuskan untuk kembali ke Lombok setelah menyelesaikan studi magisternya. Lombok kembali mengingatkan dia pada cita-cita lamanya, yaitu penulis cerita. Dan di Lombok pula dia bertemu dengan seseorang, bernama Fajar, yang cocok membimbingnya untuk menyelesaikan cerita yang dibuatnya. Tapi Fajar masih punya beban masa lalu yang membuatnya terus merasa paling bersalah.

Cerita ketiga: Cakwe Kota Tua
Bayu memilih Kota Mataram untuk memulai kehidupan barunya. Berkat kebaikan yang pernah diberikannya pada seorang teman, Bayu dengan mudah (untuk sementara) mendapatkan tempat tinggal yang nyaman dan gratis pula. Dia mulai tertarik dengan kota itu, orang-orangnya yang ramah, dan cakwe buatan Sastri.

? tanda tanya ?
Ini bukan tentang kekurangan ataupun kejelekan dari isi cerita di buku ini. Ada beberapa hal yang bikin aku gelisah dan tanda tanya di dalam hati.

Ada beberapa kata dan dialog yang menggunakan bahasa Sasak. Untuk kata, itu ada dijelaskan oleh penulis artinya apa. Tapi yang bagian kalimat, keterangan artinya itu tidak ada. Udah kucari-cari di bagian paling bawah halaman, di akhir halaman buku, tidak ada. Buku ini sampai ke Medan, lho, dan aku tidak tahu arti kalimatnya itu apa? T_T

Pada halaman 57, awalnya Hasyim menceramahi Alwi tentang penggunaan huruf, tapi saat di dialog malah muncul nama Mamat, bukan Alwi. (Aku pikir mungkin ini salah ketik)

Pada halaman 111, Tata membawa tumis sawi untuk Fajar. Dan di halaman 114 yang disantap oleh Fajar malah sayur bayam dan tempe bacem. (Tiga menu itu memang sedap. Aku pikir mungkin ini juga salah ketik)

 Lalu di halaman 119, ada kalimat: ...dia pergi ke mengajar di kampus. Kalau tidak ada kata ke, menurutku lebih pas.


kumpulan quotes
Setiap buku, setiap cerita yang disajikan pasti akan selalu ada kalimat-kalimat keren di dalamnya. Nah, berikut kumpulan kalimat-kalimat yang menurutku keren dari buku Gerimis di Atas Kertas.

Kupelihara kuat rindu itu sampai aku sendiri tidak pernah menjalin hubungan resmi dengan perempuan lain. (hal. 26)

Pahit dalam hidup tak boleh sampai tak ada, karena manusia takkan pernah tahu arti hidup yang manis tanpa hidup yang pahit. (hal. 29)

 Tapi guru sejati tidak melihat bagaimana potret muridnya di hari ini. Guru sejati berdoa dan memperjuangkan potret muridnya di masa depan. (hal 45)

  Tapi apalah artinya hidup, kalau enggan sedikit pun menantang ketidakmungkinan? (hal. 181)

 Akan ada waktunya ketika setiap kebaikan yang tertanam akan menumbuhkan pohon, memberi kita bebuahan yang kita butuhkan. (hal. 188)

↼↼⇀⇀
Judul Buku : Gerimis di Atas Kertas
Penulis : A.S. Rosyid
Penerbit : BASABASI
Cetakan : Pertama, September 2017
ISBN : 978-602-6651-30-3
↼↼⇀⇀

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lima Channel Youtube yang Sering Kutonton

Inilah Aku: 5 Fakta tentang Diri Sendiri

Review: Surat dari Kematian

Lima Kebahagiaan Sederhana

[Cerpen-DiGi Magazine Edisi 03] Mei di Bukit Hitsujiyama

Pesan Moral dari Ade Ubaidil

[Review] Twiries The Freaky Twins Diaries

Postingan populer dari blog ini

Lima Channel Youtube yang Sering Kutonton

Inilah Aku: 5 Fakta tentang Diri Sendiri

Review: Surat dari Kematian