Mengenal Mesir Kuno Lewat Ibu Susu
Judul : Ibu Susu
Penulis : Rio Johan
Penerbit : KPG
Cetakan : Pertama, Oktober 2017
“Saya mau ibu susu bagi bayi saya
mengabdikan seluruh dirinya, Firaunku, bukan cuma air susunya.” –hal. 25
Berdasarkan
mimpi-mimpi yang dilalui Firaun Theb, Pangeran Sem hanya bisa disembuhkan oleh
air susu. Tapi ibu susu pangeran sudah diusir dan diasingkan karena dituduh
air susunyalah yang menyebabkan calon firaun masa depan itu sakit. Sedangkan
Meth, ibu kandung Pangeran Sem, tidak bisa menyusui lagi sebab air susunya tak
lagi keluar sejak minggu ketiga kelahiran pangeran.
Berdasarkan
mimpi-mimpi itu juga, Firaun Theb mendapatkan petunjuk tentang ibu susu yang
baru, yang bisa menyembuhkan penyakit bayi mungilnya itu. Dialah Iksa,
perempuan papa dan pesakitan. Sekujur tubuhnya dipenuhi borok, bisul, dan
nanah. Tapi ajaibnya, ada bagian tubuhnya yang tidak dijajah sedikitpun,
sesentipun oleh borok-bisul-nanah, yaitu kantung susunya. Hoho...
Iksa mau menjadi
ibu susu untuk pangeran, tapi dia punya tiga permintaan. Ya, cuma tiga, tapi
bikin pyusiiing. Permintaan pertama, ya satu tapi buntutnya banyak. Terus
permintaan kedua dan ketiga, oh ya ampun. Itu perempuan ternyata nggak bodoh.
Perkara air susu
jadi serumit itu. Kedatangan Iksa tentu akan menyelesaikan masalah yang terjadi
pada putra Firaun Theb, dan di lain hal juga memberi masalah baru pada
orang-orang di kerajaan. Namun bagi Firaun Theb yang penting puteranya sembuh
dan negerinya tetap baik-baik saja.
“...ketahuilah, segala yang kulakukan,
segala kepantasan dan ketidakpantasan yang sudah kulakukan, tiada lain dan
tiada bukan demi masa depan putraku dan negeri yang kelak akan
dipimpinnya.”-hal.193
Aku sempat
berempati pada kisah Iksa dan para leluhurnya yang menjadi korban perang dari
pemerintahan firaun sebelumnya. Mungkin karena masa lalu yang menyedihkan itu
makanya dia mengajukan tiga permintaan. Tapi, mentang-mentang jasanya dibutuhkan,
aku merasa sikap dia itu kok songong kali, ya. Kan kezel!
Dan Meth, sang
Istri Agung, kedudukannya juga lebih agung dibanding istri-istri firaun yang
lain. Ternyata sifatnya lebih lunak dan sabar dari yang kukira.
Suasana Mesir Kuno
begitu kental dalam novel yang berjumlah 202 halaman ini. Tidak hanya tentang
dewa-dewi yang mereka sembah, kisah kejayaan firaun-firaun yang pernah memimpin
tapi juga jadi mengenal budaya dan lingkungan Mesir Kuno yang tidak kutemukan
dalam buku Sejarah waktu sekolah dulu.
Ada satu hal yang
baru kutahu. Kalo zaman sekarang untuk mengetahui perempuan hamil atau tidak
itu kan pakai testpack. Nah kalo perempuan Mesir Kuno mengencingi
beberapa jenis biji-bijian, kalo ada yang berkecambah berarti hamillah
perempuan itu. Bahkan bisa langsung tahu jenis kelamin si bayi lewat jenis biji
apa yang berkecambah. Wah!
Saking terasanya
suasana Mesir pada masa lampau dalam novel ini, aku penasaran dan beneran nyari lewat Google nama-nama
firaun yang pernah memimpin Mesir Kuno untuk cari tahu apa ada firaun yang
bernama Theb?
Terus?
Ya, nggak ada lah.
:D
Cerita tokoh Firaun
Theb, Meth, dan Iksa itu fiksi. Cuma khayalan. Di akhir halaman dalam novel
ini, ada penjelasan dari penulisnya. Karena riset yang mendalam makanya cerita
di novel ini jadi begitu terasa nyata.
Rangkaian kalimat
dalam kisah Ibu Susu seperti novel terjemahan. Sambil membaca novel ini aku
juga buka-buka KBBI. Sadarlah, masih banyak kosa kata Bahasa Indonesia yang belum
kutahu, bentuk dan artinya. Ckckck...
Ada beberapa typo di
dalam novel ini, salah satu contohnya di halaman 151. Bagaima seharusnya
Bagaimana. Tapi ya sudahlah, aku sudah terlanjur disihir oleh jalan cerita Ibu
Susu ini.


Komentar
Posting Komentar