Mencari Jejak Cinta di Bumi Sumatera Barat


Beberapa hari yang lalu aku kedatangan novel baru. Sampulnya berwarna peach, warna muda yang memberi kesan teduh. Lalu dipadu dengan warna-warna terang dari pemandangan sawah, lembah, dua orang yang menggendong ransel, birunya laut, dan Rumah Gadang.


Setiap kali melihat rumah khas itu pasti pikiran langsung menuju ke Sumatera Barat. Tempat dimana penulis-penulis hebat lahir di sana. Buya Hamka, S.T. Alisjahbana, A.A. Navis, lalu Marah Rusli dengan Sitti Nurbayanya. Itu saja? Tidak. Masih banyak lagi. Dan salah satunya adalah penulis novel Jejak Cinta 20 Tahun Berlalu ini. Maya Lestari Gf. Pertama kali tahu namanya itu lewat Majalah Bobo. Cerpen Uni Maya beberapa kali kulihat ada di majalah yang sampai sekarang masih suka kubaca.

Jejak Cinta 20 Tahun Berlalu. Dari judulnya kentara kalau novel yang berjumlah 292 halaman ini mengangkat tema tentang cinta. Tentang kisah cinta Paman Ben.

Abby dan Keegan diberikan misi penting. Paman Ben sendiri yang memilih mereka. Tugasnya: mereka harus membantu Paman Ben menemukan Rinjani sampai ketemu. Tapi Paman Ben tidak tahu alamat Rinjani, bahkan nomor WA pun tak ada. Lha? Jadi gimana? Bahkan Google Map pun mana bisa bantu kalo gitu adanya.

Abby tidak mengerti, mengapa harus dia yang menemani Paman Ben, padahal keponakan Paman Ben banyak, bukan hanya Abby seorang, mengapa Keegan juga diikutsertakan, dan mengapa selama dua puluh tahun Paman Ben belum juga bisa move on?

“Keberhasilan tidak ada hubungannya dengan berapa banyak isi rekeningmu. Keberhasilan ditentukan seberapa banyak kamu bahagia.” –hal.220

Keputusan Paman Ben untuk kembali dan tinggal di Indonesia membuat keluarga Hadison gempar, heboh. Dua puluh tahun yang lalu, dia pernah jatuh cinta pada teman sekolahnya, Rinjani. Mencintai dalam diam, dia terlalu gugup dan tidak ada nyali untuk mengakui perasaannya pada Rinjani. Setelah tamat SMA, Rinjani malah dilamar orang lain. Paman Ben kecewa berat dan memutuskan pergi ke Leiden. Di sana, selain untuk melupakan Rinjani, dia juga mengasah kemampuan melukisnya. Hingga Paman Ben menjadi pelukis terkenal di Eropa dan menjadi kaya raya.

Dua puluh tahun berlalu. Nyatanya Rinjani masih saja ada terus di dalam pikiran Paman Ben, yang selama dua puluh tahun itu pula dia belum menikah. Saat mendapat kabar kalau Rinjani sudah sendiri karena suaminya meninggal, itu seperti kesempatan kedua untuk Paman Ben. Makanya dia kembali ke Indonesia, meminta bantuan Abby dan Keegan, dua sepupu jauh yang seperti Tom & Jerry, yang selalu berantem dan ledek-ledekan mulu kalau ketemu.

Maka, setelah Paman Ben tiba di Bandung, tak perlu menunggu lama, esok harinya mereka bertolak ke Padang, mencari jejak Rinjani, melakukan perjalanan yang di dalamnya ada tawa dan kesedihan.

Perjalanan adalah seni menemukan hal-hal tak terduga. –hal.45
Begitu juga alur cerita dalam novel ini membawa dan membuat tokohnya pada sebuah perasaan yang tak terduga.

Bersama Paman Ben, Abby juga Keegan, pembaca diajak berjalan-jalan menikmati eksotisnya pemandangan yang ada di Sumatera Barat. Ada pemandangan indah yang bisa dilihat dari puncak Mandeh, cantiknya terumbu karang di dekat Pulau Setan Kecil, kerennya air terjun yang ada di Lembah Harau. 
  
“Ya Tuhan, betapa ekspresifnya Engkau! Pelukis Ekpresionisme sejati.” –hal.258
                        
Selain memiliki penulis-penulis hebat, Padang juga kaya akan kuliner. Masakan khasnya tidak hanya dikenal di Indonesia tapi juga sampai ke luar negeri. Membaca novel ini dalam keadaan belum makan adalah sebuah kesalahan. Tidak hanya rendang yang bikin ngiler dan perut jadi keroncongan. Ada lontong gulai pakis, ada teh telur, ada sensasi manis karamel dari bubur kampiun, ada kerupuk kuah, ada bubur kacang padi. Kacang padi? Ternyata itu istilah orang Minang untuk menyebut kacang hijau lho.

Karena novel ini memakai sudut pandang orang pertama, yaitu hanya Abby, jadi kurang tahu gimana sebenarnya perasaan Paman Ben di dalam dirinya, perasaan Keegan juga Lalu saat di dekat air terjun Lembah Harau. Apa sih yang ‘mereka’ bicarakan? Abby nggak kasih penjelasannya. *kepo nih* Haha...Ya memang sih menguping pembicaraan pribadi orangtua itu nggak etis.

Jejak Cinta 20 Tahun Berlalu memang ada kesedihan di dalamnya, tapi di sisi lain ada hal-hal lucu yang membuat tawa jadi selebar tampah :D

Walau menemukan beberapa typo, novel ini tetap menyenangkan untuk terus dibaca hingga ke halaman terakhir. Dan aku sudah selesai membacanya. Yess! J 

Oh, bubur kampiun...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lima Channel Youtube yang Sering Kutonton

Inilah Aku: 5 Fakta tentang Diri Sendiri

Review: Surat dari Kematian

Lima Kebahagiaan Sederhana

[Cerpen-DiGi Magazine Edisi 03] Mei di Bukit Hitsujiyama

Pesan Moral dari Ade Ubaidil

[Review] Twiries The Freaky Twins Diaries

Postingan populer dari blog ini

Lima Channel Youtube yang Sering Kutonton

Inilah Aku: 5 Fakta tentang Diri Sendiri

Review: Surat dari Kematian