Halal Haram Sebagai Tanda Cinta Allah Pada CiptaanNya


Halal berarti sesuatu yang boleh dilakukan karena tidak terikat dengan ketentuan yang melarangnya, atau bisa juga berarti segala sesuatu yang bebas dari bahaya dunia dan akhirat.

Haram adalah sesuatu yang dilarang oleh Allah untuk dilakukan, maka orang yang melanggarnya akan mendapatkan sanksi.


Tidak hanya dalam Islam, hukum halal dan haram itu juga ada pada agama lain dengan ukuran, macam, dan sebab-sebab yang berbeda. Orang-orang jahiliah pernah tersesat dan mengalami kekacauan yang luar biasa, sehingga mereka berani menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, seperti membolehkan minum minuman keras atau mengubur anak mereka hidup-hidup. Hii...

Oke, kembali tentang halal dan haram. Yusuf El-Qardhawi dalam tulisannya yang berjudul Halal dan Haram dalam Islam, dasar pertama yang ditetapkan dalam Islam adalah asal sesuatu yang dicipta Allah adalah halal dan mubah. Tidak ada satupun yang haram, kecuali karena ada nash yang sah dan tegas dari syari' (yang berwenang membuat hukum itu sendiri, yaitu Allah dan Rasul) yang mengharamkannya. Kalau tidak ada nash yang sah—misalnya karena ada sebagian Hadis lemah—atau tidak ada nash yang tegas (sharih) yang menunjukkan haram, maka hal tersebut tetap sebagaimana asalnya, yaitu mubah.

Seperti yang tertera pada Surah Al-Baqarah ayat 29, "Dialah Zat yang menjadikan untuk kamu apa-apa yang ada di bumi ini semuanya."

Ditambah lagi dengan hadis riwayat Hakim dan Bazzar yang menyatakan, Apa saja yang Allah halalkan dalam kitabNya, maka dia adalah halal, dan apa saja yang Ia haramkan, maka dia itu adalah haram; sedang apa yang Ia diamkannya, maka dia itu dibolehkan (ma'fu). Oleh karena itu terimalah dari Allah kemaafannya itu, sebab sesungguhnya Allah tidak bakal lupa sedikitpun.

Rasulullah SAW pernah ditanya tentang hukumnya samin, keju dan keledai hutan, maka jawab beliau: Apa yang disebut halal ialah: sesuatu yang Allah halalkan dalam kitabNya; dan yang disebut haram ialah: sesuatu yang Allah haramkan dalam kitabNya; sedang apa yang Ia diamkan, maka dia itu salah satu yang Allah maafkan buat kamu. (Riwayat Tarmizi dan lbnu Majah)

Hmm...jadi beberapa hal yang Allah haramkan itu, justru karena ada sebab dan hikmat. Dan segala sesuatu yang menimbulkan bahaya, maka itu haram hukumnya.

Hukum halal dan haram itu sudah ketentuan dari Allah. Adalah wajib untuk meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah. Dan sebagai muslim yang baik, apa yang dilarang  maka jauhilah. Itu sudah mutlak. Sami'na wa atho'na, yang berarti kami dengar dan kami patuh.

Bisa saja ada ujian di dalamnya, setangguh apa iman kita untuk tidak melakukan hal yang dilarang olehNya. Dan bila lulus dalam ujian itu, maka mendapat pahala dan ganjaran yang baik dari Allah.

Aku menganggap hukum halal dan haram itu sebagai tanda bahwa Allah itu sayang banget sama aku, kamu, kita, manusia ciptaanNya. Allah telah memberitahu apa-apa saja yang halal dan haram. Yang halal bisa memberi manfaat untuk hidup kita, sedangkan yang haram bisa membahayakan hidupmu juga orang lain. Allah saja sangat sayang pada dirimu, lalu seharusnya kamu bisa lebih sayang pada dirimu sendiri. Nah, memahami tentang hukum halal dan haram membuatku banyak-banyak bersyukur.

Lagian yang halal kan jauh lebih banyak daripada yang haram? Jadi ketika Allah melarang kita untuk jangan mengonsumsi yang haram, maka Allah menyediakan begitu berlimpah makanan yang halal. Dan tentu bukan saja halal, tapi harus thayyib. Ibnu Taimiyah dalam kitab Majmu’ Fatawa menerangkan yang dimaksud thayyib adalah yang bisa membuat baik jasmani, rohani, akal dan akhlak manusia. Dan lawan dari kata thayyib ini adalah khabits yang berarti sesuatu yang menjijikkan dan bisa merusak fisik, psikis, akal dan akhlak seseorang. Sebuah keistimewaan manusia diberi akal pikiran oleh Allah, sehingga manusia bisa membedakan mana yang baik dan tidak untuk dirinya.

Halal dan haram tidak hanya menyangkut tentang makanan dan minum yang kita konsumsi. Halal dan haram juga meliputi aktivitas, kegiatan yang yang kita lakukan setiap hari. Hukum halal dan haram tentunya bisa membuat setiap muslim agar waspada dalam memilih makanan juga minuman, dan berhati-hati dalam bertindak. Seperti pada buku baru yang berjudul “Waspada Jejak Haram yang Mengintai” ini perlu sekali kumiliki sebagai bacaan tambahan supaya pemahaman tentang halal dan haram semakin bertambah. J
Ini dia bukunya


"Barangsiapa mencari rezeki yang halal dengan niat untuk menjaga diri supaya tidak minta-minta, dan berusaha untuk mencukupi keluarganya, serta supaya dapat ikut berbelas kasih (membantu tetangganya), maka kelak dia akan bertemu Allah (di akhirat) sedang wajahnya bagaikan bulan di malam purnama." (Riwayat Thabarani)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lima Channel Youtube yang Sering Kutonton

Inilah Aku: 5 Fakta tentang Diri Sendiri

Review: Surat dari Kematian

Lima Kebahagiaan Sederhana

[Cerpen-DiGi Magazine Edisi 03] Mei di Bukit Hitsujiyama

Pesan Moral dari Ade Ubaidil

[Review] Twiries The Freaky Twins Diaries

Postingan populer dari blog ini

Lima Channel Youtube yang Sering Kutonton

Inilah Aku: 5 Fakta tentang Diri Sendiri

Review: Surat dari Kematian