Gray dan Candrasa

Judul : Candrasa
Penulis : Primadonna Angela
Editor : Lana Zhafira
Desain Sampul & Ilustrasi : Martin Dima
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Pertama, 2017
Tebal : 288 halaman

~ Ini berkat sekaligus kutukan. Ini hadiah sekaligus malapetaka. (hal.149)~
           
Candrasa, mengingatkanku pada pelajaran Sejarah waktu SMP, tepat pada pembahasan tentang Zaman Logam. Candrasa dipakai untuk upacara keagamaan. Bentuknya sekilas mirip dengan font huruf C pada judul yang ada di covernya itu tuh.
            Nah, waktu pertama kali lihat covernya dan aku tidak membaca blurbnya, kupikir nama tokoh utama dari novel ini adalah Candrasa. Ternyata bukan! Hehe.

            Sapta Gray, siswa SMA yang tiap malam tidak bisa tidur dengan nyaman sebab selalu ada saja siluman yang mengganggunya. Siluman-siluman yang makanannya itu adalah prana -energi- manusia. ‘Orang-orang biasa’ tidak bisa melihat siluman itu. Namun Gray yang memiliki bakat istimewa, mampu melihat mereka bahkan bisa melawan mereka, tapi saat itu Gray bisanya hanya bisa melawan siluman yang masih tahap rendahan.
            Gray selalu senang ke sekolah sebab dia selalu aman di sana. Entah mengapa siluman-siluman slompret itu tidak mengganggu ketenangannya, Gray juga tak mencari tahu, yang penting dia aman. Makhluk-makhluk itu bukan berarti menjauh, tetap ada yang mengusiknya tapi tidak separah saat dia di luar sekolah.
            Namun ketenangan Gray di sekolah tak bertahan lama. Ini gegara dia membantu Arman dan Aretha dari kejahilan siluman-siluman itu. Juga karena dia lupa memasang perisai pada dirinya.
Gray tahu siapa pemilik siluman yang mengganggu Arman dan Aretha, ternyata Brian. Pun Brian sebenarnya tidak benar-benar memiliki bakat seperti Gray. Brian mendapatkannya dengan jalan pintas, dan itu sangat berbahaya.
            Brian tahu kemampuan Gray. Dia mengajak Gray berteman dengannya dan mengundang Gray makan siang di rumahnya. Hahaha. Di bagian ini, di saat Gray berada di rumah Brian, benar-benar membuatku tertawa sampai sakit perut. Dari halaman 73 sampai 93 itu full bikin kekeh bahagia. Hahaha.
         Lanjut!
        Usai makan siang, Brian mengajak Gray ke kamarnya. Disana Brian cerita mengapa dia memiliki siluman –siluman (yang dia beri nama dengan nama sangat cantik-cantik) itu. Di kamar Brian juga ada lemari tua yang dibelinya dari sebuah pelelangan.
          Dari situ masalah bermula tapi Gray tidak menyadarinya. Di sekolah yang seharusnya menjadi tempat yang damai untuk Gray, dia malah diserang habis-habisan oleh para perejah yang tingkatan dan kemampuannya di atas siluman-siluman yang sering mengganggunya.
    Bertarung dengan mereka, membuat kemampuan Gray meningkat. Dia akhirnya bisa membangkitkan Candrasa yang ada di dalam dirinya, dia juga tahu kalau ternyata ada temannya yang lain yang punya kemampuan seperti dia, Lilah. Dan dia tahu kalau ternyata ada juga gurunya yang memiliki kemampuan istimewa.
     Ya, Candrasa itu berbentuk pedang. Deskripsi yang ditulis oleh Mbak Donna membuatku berimajinasi bagaimana bentuk Candrasa. Pedang yang sangat kharismatik.
         Gray dan Lilah memang berhasil mengusir para perejah itu dari sekolah mereka. Tapi tentu saja Sang Maharaja Perejah, pemimpin para perejah enggak bakalan diam begitu saja menyaksikan anak buahnya dikalahkan oleh Gray. Apalagi Maharaja Perejah tahu kalau Gray memiliki Candrasa.
      Mendapati kedua orangtua dan adiknya yang sekarat di rumah, Gray yakin kalau itu adalah perbuatan dari perejah-perejah itu.  Maharaja perejah menuntut balas. Dan Gray tidak bisa diam saja.
         Menuju epilog, Mbak Donna menyisipkan sebuah kalimat menarik. Ya tidak hanya di bagian itu saja. Tapi di setiap pergantian bab, aku menemukan kalimat-kalimat menarik yang memotivasi, menginspirasi, menasehati bahkan menohok. Hehe..

        Oh iya, mengenai kalimat menarik mendekati akhir cerita, bunyinya seperti ini:
Ini belum usai. Selagi masih hidup, setiap harinya akan penuh oleh perjuangan.
       Yes, setiap hari kita memang harus berusaha dan berjuang. Banyak hal yang akan dihadapi.
      Aku pikir apa quote itu ada hubungannya sama ending cerita. Akhir ceritanya itu nggak gantung, hanya saja...

     Apa Mbak Donna bermaksud untuk membuat Candrasa part II?
     Kalau iya ya nggak apa-apa juga sih. Kutunggu deh dengan senang hati. ☺❤

Berdoalah, berbuat baiklah, dan kalau kau memang dikaruniai kemampuan ekstra, dengan berlatih menguasai emosi dan kekuatanmu, levelmu pun akan meningkat pesat. (hal. 36)

Sekecil dan sebesar apa pun,  ucapan  terima kasih itu harga mati-wajib hukumnya. (hal.68)

“...Kita diberi kemampuan, kekuatan, untuk melindungi yang lemah. Apa artinya, kalau mengabaikan makhluk yang mungkin orang lain tidak anggap cukup penting untuk diselamatkan?” (hal.247)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lima Channel Youtube yang Sering Kutonton

Inilah Aku: 5 Fakta tentang Diri Sendiri

Review: Surat dari Kematian

Lima Kebahagiaan Sederhana

[Cerpen-DiGi Magazine Edisi 03] Mei di Bukit Hitsujiyama

Pesan Moral dari Ade Ubaidil

[Review] Twiries The Freaky Twins Diaries

Postingan populer dari blog ini

Lima Channel Youtube yang Sering Kutonton

Inilah Aku: 5 Fakta tentang Diri Sendiri

Review: Surat dari Kematian