Misi Terakhir
Judul : Dead Smokers Club part 3
Penulis
: Adham T. Fusama
Penyunting : Nurul Aria
Penyelaras Akhir : Rani
Penata Letak : Rio
Pendesain Sampul : AKI
Ilustrasi T&T: Arief Noor Ifandy
Pendesain Logo DSC : Ahmad Syarifuddin
Penerbit : FIM Kreasindo Gemilang
Cetakan : Pertama, Agustus 2017
Tebal : vii + 286 halaman; 13,5 x 20 cm
“...Terlepas
dari kenyataan yang ada, kita tetap melakukan aksi-aksi yang hebat. Malam ini,
kita akan buktikan kemampuan kita sekali lagi!” (hal. 46)
Setelah ada DSC
part 1 dan DSC part 2, inilah bagian terakhir itu. Dead Smokers Club part 3,
melanjut dari cerita sebelumnya, konflik di DSC ini juga semakin ruwet. Pak
Tommy, pemilik sekolah, ditangkap polisi dengan tuduhan memiliki ganja. Lalu
Erick dan Daniel nggak mau lagi gabung ke DSC karena menurut mereka DSC sudah
berbeda. Tinggal Adrian, Dennis, Sam, Rudy, Johnny, Jon, Andy, dan Don yang
masih setia di DSC.
Untuk membuktikan
kalau Pak Tommy tidak bersalah dan mengembalikan nama baik sekolah, mereka
harus memiliki persiapan yang matang. Sam si jenius menjabarkan urutan rencana
dan strategi yang akan mereka jalankan. Tapi apalah arti ide-ide gila Sam bila
anggota DCS sendiri nggak lengkap. Formasi awal mereka sudah pas dan klop, maka
bila tidak ada Daniel dan Erick, tentu hal itu terasa pincang. Maka hal pertama
yang mereka lakukan adalah meminta pertolongan Daniel dan Erick.
Tentu saja, meminta
pertolongan pada mereka tidak seperti meminta permen pada anak kecil. Harus adu
jotos dulu. Hm...gengsi dan keras kepalanya sama. Ya, namanya juga anak SMA.
Ya, Daniel dan Erick
memang bersedia membantu mereka, dua anak SMA itu juga ingin tahu dengan mata
kepala mereka sendiri apakah Pak Tommy benar-benar bersalah atau tidak?
Setelah formasi
lengkap, peralatan untuk memata-matai juga lengkap, dan ada sokongan dana dari
Pak Tonny (saudara kembar Pak Tommy), mereka berbagi tugas dan mulai bergerak
mencari seseorang yang telah melaporkan Pak Tommy ke polisi, menangkapnya dan
meminta orang itu untuk buka mulut memberitahu siapa dalang di balik itu semua.
“Kita harus satu
komando. Kompak! Kalau ada kesulitan, kita atasi bersama. Ingat! Nyawa Pak
Tommy sangat bergantung pada kesuksessan misi kali ini!” (hal.
103)
Mereka bekerja sama
dengan baik, walau ada beberapa tugas yang dari hati nurani mereka yang terdalam,
mereka enggan melakukannya. Seperti yang terjadi pada Rudy. Hihi...
“Kalian semua...berjanjilah kepadaku bahwa
kalian tidak akan menjadi penjahat di masa yang akan datang.” (hal.165)
Haha...salah satu guru aja sampai
mewanti-wanti mereka seperti itu karena mendengarkan Sam dan Dennis menjelaskan
hal-hal yang akan mereka lakukan untuk mencari bukti tentang ganja yang
menyebabkan Pak Tommy masuk penjara. Mereka memang nekat, pemberani, juga
sinting karena ide-idenya nggak seperti anak-anak SMA biasanya. Namun mereka bertindak
tetap pakai otak dan hati.
Aku jadi teringat
pada almarhum Hila, yang hingga saat ini sang ibu masih mencari keadilan
untuknya. Itu yang buat acara gladiator-gladiatoran, lebih jahanam daripada
para anggota DSC! Semoga Tuhan menempatkan Hila di tempat yang terbaik dan
pelaku mendapat ganjaran yang berat. Amin.
Di halaman 63, ada dialog
menggunakan “lo” tapi di akhir kalimat kok jadi “kamu”. Terus dapat lagi di
halaman 75. Dan anehnya keduanya itu terjadi pada dialog Sam! Jadi seolah-olah
Sam itu kalo ngomong nggak konsisten. Padahal dia kan jenius sangat. Kasihan
Sam.
Aku merasa kalau laju
cerita DSC 3 ini seperti ingin cepat-cepat, melewatkan hal-hal yang
seharusnya masih bisa dijelaskan. Seperti, saat lagu Lady Gaga dihentikan, Rudy
keluar ruangan. Tugasnya selesai. Kupikir dia nggak ikut gabung bareng Jon dan
Andy lagi untuk menyaksikan Sam dan Dennis bernegosiasi. Tapi tiga halaman
berikutnya, Dennis, Sam, Rudy, Andy, dan Jon saling pandang satu sama lain.
Lho, jadi Rudy masih di situ? Kapan masuk lagi ke ruangan? Kok tiba-tiba
muncul?
Terus saat di Bali.
Kenapa Rudy satu vila sama Mrs. Kelly? Kenapa nggak gabung saja bersama para
anggota DSC lainnya? Hahaha...Sampai-sampai dikasih peringatan keras sama
Dennis. Oh, Rudy.
Lalu saat Jon
bertanya tentang Yenita kepada Bruno. Apa Bruno tidak ingat siapa Jon? Kalau
Bruno ingat, kurasa itu bisa membahayakan T&T juga DSC sendiri. Nah,
disinilah. Menurutku, ending DSC part 3 ini memang manis. Tapi masih terasa
kurang enak, kurang
garam dan kurang pedas kalau seperti itulah ending dari DSC
yang sebenarnya. Kecuali Andy dan Don, mereka masih ada satu tahun lagi di
sekolah, kan? Jadi, beneran Bang Adham enggak mau melanjutkan cerita DSC lagi?
Ya, di samping
hal-hal yang membuatku bertanya-bertanya itu, DSC ini novel paling
antimainstream yang pernah kubaca. Awalnya aku cuma beli yang ketiga aja. Eh,
aku malah ketagihan mau baca yang part 1 dan part 2 juga. Aneh aja rasanya
kalau enggak tahu asal-usul kehidupan mereka dengan jelas.
Bosan dengan novel bertema
romance yang manja-manja bikin gelisah-galau-merana, DSC part 3 ini bisa kok ngasih
pengalaman membaca dan sensasi beda dari yang lain. Ide ceritanya unik.
Hubungan persahabatan
yang erat. Saling menghargai. Itu pesan yang kuambil dari novel ini. Tidak
banyak masyarakat, oke, nggak usahlah di masyarakat. Bahkan di sekolah, dalam
satu kelas, misalnya ada siswa yang seperti Rudy, Andy, Jon, atau Erick dengan
mohawknya. Apa lagi kalau nggak jadi korban perundungan. Memang ada yang
menerima, tapi tetap saja banyak yang mencela.
“Jangan terlalu cepat ngambil keputusan, Rick,”
tegas Daniel. “Konspirasi itu mengerikan, Sob. Berlapis-lapis, berbelit-belit,
numpuk fitnah-fitnah kotor buat nutupin fakta yang ada.” (hal. 58)
“...Paru-paruku
terlalu berharga untuk diisi asap.” (Don, hal. 120)
Terima
kasih Tuhan, Atas hidup ini, atas semua karunia ini, juga atas teman-teman
hebat yang Kau berikan kepadaku...Hadiah-Mu luar biasa. (hal. 242)

Komentar
Posting Komentar