Jadi Lebih Baik dengan Berhijrah: Stop Ghibah!
Tahun 1438 H
telah menjadi masa lalu. Tahun 1439 H yang waktu itu masih menjadi masa depan, yang
aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku dan apa yang akan kuhadapi di tahun
itu, sekarang aku berada di dalam dekapannya.
Jadi, apa yang
akan kulakukan di tahun yang baru ini? Apa lebih dulu kusambut dengan berhura-hura?
Atau baiknya kurenungkan apa yang sudah kucapai di tahun lalu dan kembali
membuat daftar apa yang harus kucapai di tahun ini.
Kuambil buku
catatanku. Lalu kubuka lembar demi lembar halamannya, menuju pada barisan daftar-daftar
yang kutulis di awal tahun lalu.
Harapanku Untuk Tahun Ini. Seperti itu kubuat
judulnya. Terteralah keinginan dan harapanku dari nomor satu sampai yang
kesekian ratus. Wew, ternyata aku memiliki banyak harapan juga keinginan, ya. Kuharap
Allah tak bosan mendengar harapan dan keinginanku itu. Hihi...
Membaca daftar-daftar
itu membuatku senyum-senyum sendiri. Lucu, bagiku. Harapan dan keinginan itu,
ada yang logis dan ternyata ada tidak masuk akal.
Ada hal-hal yang
berhasil kudapatkan. Alhamdulillah. Dan ada juga aku belum mendapatkannya,
mengalami kegagalan. Don’t give up. Coba lagi. Keinginan bukan sekadar dituliskan,
tapi ada sesuatu yang harus dilakukan agar keinginan itu benar-benar tercapai.
Begitu, kan?
Kusimpulkan, harapan
dan keinginanku itu punya empat tema. Pekerjaan, materi, impian, lalu jodoh? Ah,
klise ya.
Semakin bertambah
usia (kalau enggak mau dibilang tambah tua), seharusnya aku makin sadar,
mengapa keempat itu saja yang kugapai. Bagaimana hubungan spiritualku dengan
Allah? Mengapa itu kurang ditingkatkan? Itu sepertinya kuabaikan.
Seolah-seolah ada
yang berteriak di telingaku. Kau banyak permintaan, banyak keinginan. Tapi tak inginkah kau
menjadi lebih baik sifatmu? Apa kau tidak mau jadi lebih baik dengan
berhijrah? Berhijrah dari sifat yang buruk ke sifat yang baik.
Lantas hal-hal
baik apa yang sudah kulakukan di tahun kemarin? Hal-hal baik apalagi yang harus
kulakukan di tahun yang baru ini, yang tahun lalu belum kulakukan? Sifat buruk apa
yang sudah kusingkirkan?
Ada salah satu
rubrik di Saliha, sebuah rubrik yang menurutku sangat inspiratif namanya
Oase. Di sana ada artikel-artikel yang membuatku merasa ditegur, membuatku
sadar ‘Ah, ya, hal ini masih saja kulakukan’. Mengingatkanku
pada salah satu daftar yang sudah kutulis. It’s about gossip atau ghibah.
Oke, coba
kuhitung berapa kali dalam sehari itu aku menggosip, membicarakan tentang aib orang
lain di belakangnya, baik itu benar atau tidak, dikurangi tidak,
ditambah-tambahi iya. Lalu bagaimana pula bila dihitung selama sebulan, bahkan
setahun? Huh! Aku nggak bisa menghitungnya.
Padahal jelas ya
di dalam Alquran pada surah Alhujurat ayat 12 tentang larangan ghibah. Tahu
tapi tetap saja mengingkarinya. Sulit memang untuk tidak membicarakan tentang
orang lain. Apalagi lidah yang lentur ini, kadang suka ngomong keceplosan.
Sekarang, hal yang
kulakukan paling aku memilih untuk diam bila ada seseorang yang membuka topik
membicarakan kejelekan orang lain. Lantas kalau sudah terlalu jauh, kucoba
perlahan ganti topik pembicaraan lain yang tidak membicarakan tentang aib orang
tersebut. Atau pura-pura aja cari alasan lain supaya bisa pergi dari situ.
Aku tak pernah
tahu. Aku membicarakan orang lain, merasa paling bersih, tapi ternyata di
kemudian hari bisa jadi aku seperti orang yang kubicarakan itu. Kadang tuh ya,
efek dari ghibah itu bisa bikin buruk sangka akhirnya nggak mood kalau mau
ketemu sama orangnya. Padahal bisa jadi kalau yang hal buruk yang dicap ke
orang itu belum tentu benar.
Baiklah, tahun
lalu, stop ghibah! memang sudah masuk ke dalam daftar harapanku. Ya, dan
tahun ini, stop ghibah! harus kumasukkan daftar lagi. Meski tentu saja sulit,
tapi harus benar-benar diniatkan di hati. Kalau enggak bisa total, kurangi
perlahan. Dan pikirkan juga kalau membicarakan kejelekan orang lain itu enggak memberikan manfaat sama sekali.

Komentar
Posting Komentar