Apa yang Dia Pikirkan Saat Aku Benar-Benar Tak Bisa Membantunya?
Dia
mengirimiku pesan.
Oh,
ya! Wah, tumben sekali. Biasanya selalu kau yang memulai duluan, lalu
ditanggapi dingin sama dia. Hahaha...
Sssttt...Aku
serius.
Terus
kenapa ekspresimu muram begitu. Seharusnya wajahmu penuh senyum. Hihi
...
Oke,
maafkan aku. Oh iya, memang apa isi pesannya?
Ini.
Bacalah.
Oh...Waduh...Hm...
Aku
tahu apa maksudnya.
Ya,
dia itu secara tidak langsung mau pinjam uangmu..
Ya,
intinya dia butuh uang. Tapi kan caranya beda. Ada hal yang dia korbankan untuk
mendapatkan yang dia butuhkan. Dia pasti lagi sangat butuh uang. Tapi aku...
Aku
bisa apa ♪♫
...
Ini
pesan sudah seminggu yang lalu dan kau belum membalasnya?
Aku
bingung harus balas apa.
Kalau
tidak ada ya bilang tidak ada. Dia pasti menunggu balasanmu.
Nggak
mungkin dia nunggu balasan dariku.
Duh,
gegara sikapnya yang dingin padamu kok jadi pesimis. Setidaknya jelas gitu.
Kalau tidak bisa darimu, kan dia bisa nanya ke temannya yang lain.
...
Kenapa
kau bersedih begitu?
Karena
aku enggak bisa membantunya. Aku benar-benar tidak bisa diharapkan.
Jangan
berpikiran seperti itu. Kalau tidak ada kenapa kau harus memaksakan diri.
Aku
khawatir.
Khawatir?
Pernah
ada beberapa yang menjauhiku karena aku tidak bisa membantu mereka.
Kau
terlalu sensitif. Bisa saja mereka menjauh darimu karena hal lain. Bagaimana
kau bisa tahu kalau mereka menjauhimu karena kau tak bisa membantu mereka?
Karena
aku sensitif. Seperti yang kau katakan.
Ah,
ya. Hahaha. Aku lupa pada kelebihanmu itu. Entah bagaimana kau bisa begitu peka
pada hal-hal tersembunyi yang ada di hadapanmu. Insting atau feeling?
Tidak
jugalah. Ada beberapa hal yang tidak bisa kumengerti. Aku sendiri juga tak tahu
itu insting, feeling, atau jangan-jangan itu buruk sangka.
Hahaha...
Ya,
barangkali itu buruk sangka.
Jangan
jadi gila hanya karena tidak bisa membantunya, ataupun membantu yang lainnya.
Cuma
bisa mengasihani itu menjengkelkan.
Kalau
kau tak bisa membantunya dalam bentuk materi ataupun tenaga, kau bisa meminta
pada Tuhan Yang MahaKaya.
Doa.
Ya,
memang sih doa itu wujudnya tidak kelihatan, hanya kau dan Tuhan yang tahu
bagaimana wujud dari doamu itu. Tidak seperti materi dan tenaga yang bisa
dilihat oleh semua mata. Bukankah sebaiknya kebaikan itu tak usah diumbar, ya?
....
Oh
iya, dia bukan sedang mengujimu kan?
Maksudnya?
Aku
juga pernah menemukan beberapa orang yang sengaja berpura-pura dalam kesulitan
lantas dia meminta tolong pada temannya. Untuk menguji temannya itu memang
betul-betul orang baik, betul-betul sahabatnya, betul-betul bisa diharapkan.
Ya
ampun, tidak cukupkah Tuhan saja yang menguji kehidupanku? Kalau yang dimintai
tolong itu memang benar-benar dalam kesulitan bagaimana? Mana kutahu dia sedang
mengujiku atau tidak. Sudahlah aku tidak mau berburuk sangka. Jika setelah ini dia menjauh dariku, ya sudah. Dan aku tidak peduli
dia mau berpikiran apa padaku.
Ya,
untuk apa kau harus pusing-pusing memikirkan hal itu. Tapi, sungguh kau tidak
mau peduli lagi padanya?
Kau
itu banyak tanya. Percakapan ini membuatku lapar. Kau mau bakwan jagung?
Boleh.
Akan lebih enak bila dicocol ke sambal kecap. Atau saus cabe juga nikmat.
Terus
minumnya?
Sirup
Kurnia dengan potongan-potongan cincau. Tidak usah terlalu manis, jangan lupa
beri es batu.
Ok.

Komentar
Posting Komentar