Bang Zaki Pulang Pagi


Udah lama, sangat-sangat-sangat lama enggak update tulisan di blog ini. Kalau ini rumah, barangkali banyak dihiasi sama sarang laba-laba dan debu. :D
Maunya sih aktif terus untuk ngisi tulisan di blog ini. Aku lihat-lihat arsipku sebelumnya masa setahun cuma sekali aja ngisinya. Walah! Ckckck...
Nah, postingan pertama untuk tahun 2O16 ini *lol* adalah cerpen yang pernah kuikutkan lomba cerpen yang diadakan oleh Kompak, sebuah komunitas penulis yang ada di Medan. Tepatnya tahun 2O14 yang lalu, pusing menghadapi skripsi, refreshing bentar ikutan lomba cerpen. Cerpennya ini memang udah jadi setengah tinggal dilanjutin dan dirapiin.
Dan hasilnya?
Lumayan. Enggak buat kecewa kok.
Baiklah, Selamat membaca (:

***

Sepertinya mimpi itu telah jatuh cinta padanya. Mimpi buruk kembali menyambangi tidur nyenyaknya malam ini. Arra terjaga. Napasnya tersengal-sengal, bulir-bulir keringat mengalir di kening dan membasahi tubuh. Arra mengusap wajahnya yang basah dengan kain sarung motif kotak-kotak yang dipakainya sebagai selimut. Jam dinding berdetak-detak menyuarakan sekarang sudah pukul tiga pagi. Arra menghela nafas. Dia turun dari tempat tidur dan melangkahkan kakinya ke dapur untuk mengambil segelas air minum. Suara jangkrik bersahutan membuat dini hari tidak terasa sunyi.
Sudah sebulan lebih dia sendirian di rumah. Biasanya ada Bang Zaki, abang kandungnya. Namun sekarang Bang Zaki mendapat pekerjaan baru, menjaga gudang minyak makan katanya. Arra berharap abangnya di rumah saja kalau malam tiba, cukuplah mencari uang dari pagi sampai sore saja. Mungkin itu bisa terjadi kalau Bang Zaki dapat kerjaan baru lagi dan kerjanya bukan pada malam dan sampai pagi. Tapi di zaman ini, mencari pekerjaan sama seperti mencari jarum dalam jerami yang bertumpuk-tumpuk, apalagi untuk orang yang hanya tamatan SD seperti Bang Zaki.
Sesungguhnya Arra sangat gentar ditinggal sendirian. Rasa khawatir yang berujung takut selalu mulai seperti mengelilingi rumahnya kalau Bang Zaki telah berangkat kerja pada pukul sepuluh malam. Dia selalu merasa ada yang sedang mengintai di depan halaman rumahnya, tepat di balik pohon melinjo yang besar atau bisa saja di balik semak-semak itu. Kanan kiri rumahnya memang diapit oleh dua rumah yang dipisahkan oleh pohon jarak dan singkong. Mungkin kalau Arra berteriak minta tolong, suaranya masih bisa didengar tetangga.
“Bang...,” Arra bersuara saat sarapan pagi sebelum dia berangkat ke sekolah.
“Ya,” sahut Bang Zaki sambil mencomot roti bantal yang ada dihadapannya. Pukul enam pagi Bang Zaki sudah pulang ke rumah, sehingga dia masih sempat membelikan sarapan untuk Arra. Sebenarnya Arra juga tidak keberatan jika tak sarapan pagi. Itu tidak jadi masalah bagi perutnya. Tapi kata Bang Zaki, adiknya itu harus sarapan pagi, lambung harus diisi, agar belajarnya bisa konsentrasi.
Agak ragu Arra mengutarakan isi kepalanya kepada Bang Zaki. Sedangkan si abang menunggu apa yang mau diucapkan oleh adik kesayangannya. “Ada apa, Ra?” Sekali lagi Bang Zaki bertanya. Arra masih bungkam. Lalu Bang Zaki mengeluarkan uang dua ratus lima puluh ribu dari kantong celananya dan menyodorkan uang itu kepada Arra.
Arra tertegun. Bang Zaki tersenyum. “Ini uang sekolahmu untuk bulan ini dan uang cicilan buku. Pihak sekolah tak marah kan karena telat seminggu bayarnya?” Arra menggeleng. Bukan ini yang mau dikatakannya. Dia bukan mau meminta uang ini pada abangnya. Ada hal lain yang ingin dia katakan. Diambilnya uang itu dan segera disimpan di dalam tas ranselnya. Lantaran Arra pun telah diam saja, Bang Zaki mengira adiknya hanya akan meminta uang sekolah dan uang buku.
“Zahara!” suara melengking Bu Rosita saat memanggil deretan nama siswa kelas tiga IPA 3 yang belum melunasi uang sekolah bulan ini. Arra melangkah gontai mendekati Bu Rosita yang terkenal dengan kegalakannya apalagi untuk siswa yang susah sekali membayar uang sekolah.
“Gitu dong. Kalo ditagih itu langsung ada,” ucapnya saat Arra menyerahkan tiga lembar uang lima puluh ribu kepadanya. Arra bersyukur, perempuan berdandan nyentrik itu hanya berteriak di dalam kelas, tidak diumumkan di kantor memakai mikropon saat jam istirahat sedang berlangsung sehingga membuat seisi sekolah pun tahu siapa yang belum bayar uang sekolah.
“Ta, mau tidak malam ini bermalam di rumahku? Aku takut sendirian terus,” kata Arra pada Tata saat jam istirahat berdering.
“Bagaimana ya? Aku mau-mau aja sih. Tapi mamakku agak susah kasih izin kalau aku bermalam di rumah orang. Kau masih takut?” Arra mengangguk.
“Pernah ada yang ganggu?” tanya Tata lagi. Arra tidak yakin. “Nggak sih. Aku merasa takut saja. Aku kan nggak pernah sendirian kalau malam, Ta.”
“Barangkali karena belum terbiasa, Ra. Kita udah kelas tiga, bentar lagi UN. Selesai kau tamat, barulah mungkin kau bisa minta sama abangmu jangan kerja malam lagi.”
“Aku harus menunggu tiga bulan lagi?” Wajah Arra layu. Itu waktu menunggu yang sangat lama. Semakin UN mendekat, semakin banyak pula yang harus dilunasi. Bu Rosita telah menyebarkan selembaran kertas pengumuman kepada siswa-siswi kelas akhir. Uang sekolah sampai bulan enam harus segera dilunasi, uang praktikum, uang buku, uang LKS, uang try out, bahkan uang perpisahan juga harus segera dibayar. Semua itu harus dilunasi sebelum UN tiba.
Bang Zaki...Bang Zaki...maaf aku membebanimu, berulang kali Arra menuturkan kalimat itu kepada Bang Zaki namun hanya disampaikan di dalam hati. Mau bagaimana? Siapa lagi orang yang bisa diharapkan Arra selain abangnya? Mamak dan bapak sudah pergi menghadap Tuhan empat tahun yang lalu. Maka sejak saat itu Arra menjadi tanggungjawab Bang Zaki.
“Abangmu ini tidak pernah merasa terbebani. Belajarlah bagus-bagus. Tidak usah merisaukan hal-hal lain.”
Arra berjanji, setelah tamat ini dia akan segera mencari pekerjaan dan Bang Zaki tak perlu mengais uang di malam hari dan pulang pagi. Bukankah sianglah waktu tepat untuk mencari uang dan malam untuk beristirahat menenangkan badan?
Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya. Bang Zaki pergi lagi. Barangkali jika Arra tidak akan menghadapi UN, Bang Zaki tak harus seperti ini. Tapi kan sayang jika UN itu diabaikan. Tinggal sebentar lagi saja. Tinggal UN terakhir ini saja. Tinggal menamatkan pendidikan yang sudah dilalui selama 12 tahun ini saja. Setelah itu tidak perlulah Bang Zaki pergi bekerja di malam hari dan pulang saat matahari mulai terbangun.
Sebenarnya di siang hari Bang Zaki sudah ada pekerjaan, dia membantu merawat sawah sang juragan. Dan sebenarnya gaji per bulan dari juragan itu cukup. Namun, ingat selembar kertas dari pihak sekolah yang diberikan Arra. Di situ sudah tertera nominal yang harus dilunasi. Kalau tidak mencari tambahan pekerjaan, mau dapat tambahan uang darimana? Meminjam uang pada Mak Ir? Itu sama saja menyerahkan leher kepada vampir yang akan meneguk darah korbannya sampai kering kerontang tanpa ampun.
“Tak usah takut, adikku. Meski abang tidak di rumah, kau tetap akan aman. Di samping kiri, kanan, depan, dan belakang rumah kita ada rumah tetangga yang kita kenal. Kita sudah lama tinggal di lingkungan ini, dan semua sudah seperti saudara. Kalaulah ada apa-apa, pasti mereka akan mau membantu. Lagian tak mungkinlah ada yang mau berbuat jahat padamu. Lingkungan di sini jarang bahkan tidak pernah ada tindakan kriminal.”
Begitu ucap Bang Zaki saat Arra menyampaikan rasa khawatirnya jika Bang Zaki tidak ada di rumah pada malam hari. Iya, apa yang diucapkan abangnya memang ada benarnya. Bukankah selalu ada orang-orang yang telah dijadwalkan untuk memantau keadaan lingkungan jika malam tiba?
Sudahlah. Arra mulai menepiskan rasa gelisahnya yang terlalu berlebihan. Setelah itu Bang Zaki pergi dengan tas yang tersandang di bahunya, meninggalkan Arra setelah pintu rumah itu tertutup rapat.
***
Arra menggeliat, sayup-sayup gendang telinganya menangkap suara azan Subuh dari musala yang tidak jauh dari rumahnya. Malam ini mimpi buruk itu tidak lagi berkunjung dalam tidurnya. Pantas saja dia bisa tidur sangat nyenyak. Arra bangkit dan bergegas untuk berwudu lalu melaksanakan salat wajib dua rakaat. Dan setiap gerakan solat dilakukannya dengan khidmat, seolah-olah sang Pencipta ada dihadapannya.
Ketika Arra selesai merapalkan doa terakhirnya, dia mendengar pintu rumahnya digedor-gedor oleh seseorang. Arra bergegas menuju pintu, bahkan telekung di kepalanya pun belum sempat dibuka. Siapa pula yang datang pagi buta begini? Bang Zaki? Arra sudah hafal Bang Zaki pulang jam berapa. Ini bukan waktunya Bang Zaki pulang.
“Assalamu’alaikum,” si penggedor pintu itu bersuara. Arra sedikit lega. Tak mungkinlah orang mengucapkan salam jika akan berbuat jahat.
“Wa’alaikumsalam. Siapa?” tanya Arra hati-hati.
“Ra, ini Wak Waris.” Oh, beliau kan termasuk anggota yang turut serta berjaga malam untuk lingkungan. Arra segera membuka pintu. “Ada apa, Wak?”
Wak Waris datang bersama dua orang lainnya, dan Arra kenal mereka juga. Wak Waris dan ketiganya saling berpandangan. Mereka ingin menyampaikan sesuatu tapi kelihatan ragu-ragu. Sedangkan Arra menunggu.
“Abangmu, Ra..” Akhirnya Wak Waris angkat bicara. Arra menaikkan kedua alisnya. Perasaannya mulai tak tenang, irama jantungnya mulai beralun berdampung-dampung. Dari mimik wajah Wak Waris, Arra menebak-nebak ada hal buruk yang menimpa diri abangnya? Semoga jangan, Tuhan.
“Dia sekarang di rumah sakit, Ra. Keadaannya kritis...dia...” Suara itu tak lagi didengar Arra. Kata-kata Wak Waris tidak bisa dicerna lagi oleh Arra. Tubuhnya limbung dan akhirnya jatuh.
***
Arra teringat percakapan antara dia dan Aidil, teman di lingkungan rumahnya juga teman sekelasnya, waktu itu. Aidil bercerita kalau dia bekerja di gudang minyak makan setelah pulang sekolah. Nasibnya sedikit sama dengan Arra. Butuh uang. Mereka berdua sempat berdebat. Arra mengatakan kalau abangnya berkerja di gudang itu juga. Tapi Aidil tidak percaya. Aidil bilang dia tidak pernah bertemu dengan Bang Zaki. “Dia kan kerjanya jaga malam di sana, Dil. Jadi ya kau tak pernah bertemu dengannya. Mungkin saja dia datang saat yang lain telah pulang. Kau pulangnya magrib kan?” tanya Arra meyakinkan.
“Tidak juga. Aku pernah pulang pukul setengah sebelas malam, waktu itu kami lembur. Tetapi, tak ada aku berjumpa dengan Bang Zaki,” kata Aidil.
Arra pun juga ingat kenapa Bang Zaki sering menyandang tas di bahunya? Dan kelihatannya dia membawa banyak barang di dalamnya. Arra selalu ingin menanyakan itu. Apa isi di dalam tasnya? Cuma jaga gudang kan? Kenapa harus membawa tas? Namun pertanyaan itu dikalahkan oleh rasa khawatir Arra yang sendirian setiap malam.
Kemudian kenapa pula kamar tidur Bang Zaki sering dikunci saat dia pergi bekerja pada malam hari? Sejak dia bekerja di malam hari, Bang Zaki selalu melakukan ritual itu. Bahkan saat Bang Zaki lupa mengunci pintu kamarnya, dia menyempatkan diri untuk pulang. Padahal jika dia tidak pulang hanya untuk mengunci pintu, Arra pun tak akan tahu kalau kamarnya harus dikunci segala. Dan tidak di malam hari saja, saat Arra akan menyapu kamar abangnya di sore hari, pintu itu tak bisa dibuka. Dikunci ternyata.
“Tidak perlu Arra sapu. Abang sudah menyapunya pagi tadi.” Hanya itu jawaban Zaki saat Arra mengeluh ingin menyapu kamar abangnya tapi tak bisa dibuka. Dan pertanyaan Arra tentang mengapa kamar itu jadi selalu dikunci, tak pernah Arra katakan. Pertanyaan itu dikalahkan oleh rasa gelisah dan takutnya yang ditinggal sendirian di malam hari.
Sekarang Arra tahu. Bang Zaki tidak bekerja di gudang minyak makan. Saat dia mulai melangkahkan kakinya keluar rumah, bukan gudang itu tujuannya. Dia malah menuju sebuah ruas jalan yang cukup jauh dari lingkungan rumahnya setelah sebelumnya dia singgah sebentar ke rumah temannya yang tak lain adalah seorang waria. Sekarang Arra tahu, apa isi tas Bang Zaki yang tiap malam disandangnya saat dia pergi. Sekarang Arra tahu, kenapa pintu kamar itu selalu dikunci.
            “Kebetulan pula saat itu anak wawak mau pergi kerja pagi-pagi. Dia menemukan seseorang tergeletak bersimbah darah di pinggir jalan. Dikiranya perempuan, namun setelah diperhatikannya ternyata orang itu Zaki, abangmu, Ra.”
“Luka-luka di tubuhnya terlalu parah, dia kehabisan darah. Jika dia dibawa kemari sejam yang lalu barangkali bisa selamat,” dokter wanita itu berbicara pada Wak Waris dan Arra mendengarnya. Tepat saat mereka tiba di rumah sakit, Bang Zaki pun pergi.
“Sebenarnya sudah sering waria yang menjadi korban di sana. Kami pun dari pihak kepolisian sudah melarang agar waria-waria itu tidak lagi beroperasi di tempat tersebut, tapi tetap saja dilanggar.”
Dan mimpi buruk yang tiap malam berkunjung dalam tidurnya, sekarang benar-benar datang melawatnya di dunia nyata. Arra selalu bermimpi melihat bendera merah di rumahnya. Bang Zaki pulang pagi bersama mobil ambulans rumah sakit. Jiwanya telah lepas melayang meninggalkan raga, meninggalkan Arra. Sirene ambulans berkidung nyaring mengantar raga Bang Zaki. Tetangga-tetangga berdatangan melafalkan doa-doa. Mata basah Arra memandangi tubuh terbujur kaku dan membeku yang diselimuti kain batik panjang. Air dari matanya terus menetes-netes, tubuhnya terguncang-guncang, tapi dia tidak bersuara.
***
 Terima kasih sudah membaca postingan ini. Yang mau kasih komentar, boleh banget (:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lima Channel Youtube yang Sering Kutonton

Inilah Aku: 5 Fakta tentang Diri Sendiri

Review: Surat dari Kematian

Lima Kebahagiaan Sederhana

[Cerpen-DiGi Magazine Edisi 03] Mei di Bukit Hitsujiyama

Pesan Moral dari Ade Ubaidil

[Review] Twiries The Freaky Twins Diaries

Postingan populer dari blog ini

Lima Channel Youtube yang Sering Kutonton

Inilah Aku: 5 Fakta tentang Diri Sendiri

Review: Surat dari Kematian