Menjaring Angin


            Aku tak pernah pergi, selalu ada di dalam hatimu
Kau tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku
Saat aku tak lagi di sisimu
Kutunggu kau di keabadian
Aku tahu, itu soundtrack film Habibi dan Ainun, kan? Kisah kasih dua insan yang sangat romantis. Dan kau mengirim potongan lagu itu untukku lewat sms. Lagi-lagi, sikapmu berhasil membuat perasaanku kacau balau, tapi bahagia.
Penasaran, kubalas smsmu, apakah mungkin kau salah kirim? Bisa saja kan itu untuk dia, abang tersayangmu.
Gak ;)
Itu balasan darimu. Balasan yang menenteramkan hatiku, sejenak. Karena lagi-lagi aku terhenyak, menyadari kalau kau masih bersama dengannya. Sungguh, apa maksud dari smsmu itu? Jika kau memang akan membalas rasaku, katakanlah dengan jelas. Jangan membuat semuanya terasa samar-samar. Karena aku butuh kepastian.
***
Tidakkah kau merasakannya kalau aku sangat perhatian padamu? Aku selalu mempedulikanmu. Aku selalu mengkhawatirkanmu. Tidakkah kau tahu itu? Tapi mengapa kau menganggap apa yang kulakukan semua itu biasa saja? Mengapa kau malah memasang plang kalau kau menolakku, padahal aku belum mengatakannya.
Mengapa kau malah menyukai dia? Mengapa kau malah menyukai lelaki? Bukankah pasangan Adam adalah Hawa? Dia perhatian padamu? Aku juga perhatian padamu. Dia sayang padamu? Aku pun!
Tapi kenapa kau selalu bersamanya? Apa yang salah dariku sehingga sedikitpun kau tidak tertarik dan menganggap rasa perhatianku padamu adalah hal yang biasa. Palingkanlah perasaanmu kepadaku!
Aku cemburu kalau kau pergi berdua dengannya. Aku cemburu saat kutanya kau lagi apa dan kau menjawab sedang menemaninya pangkas di barber langganan kalian. Aku cemburu kalau kau pergi jalan-jalan malam bersama dengannya. Tahukah kau?
Kalau kau memang tidak menyukaiku, kenapa waktu itu kau memberi pertanyaan yang sulit kumengerti. “Reeva mau nikah denganku?” Pertanyaan itu...
Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau tidak sedang mempermainkan perasaanku, kan? Pertanyaanmu itu membuat perasaanku kacau luar biasa. Kacau tapi aku senang, sama seperti saat kau mengirim potongan lagu Cinta Sejati itu,  namun kembali surut saat kutahu siapa yang kau suka sebenarnya.
Aku tahu tentangmu, aku tahu kelebihan dan kekuranganmu, aku tahu rahasiamu. Aku tetap menerimamu. Aku tetap sayang padamu. Kau pernah bilang kalau dulu saat SMA, kau pernah berpacaran dengan seorang perempuan. Kau masih suka perempuan. Tidak bisakah kau beri kesempatan untukku?
Pernah kucoba untuk mengabaikanmu, mengabaikan sms dan obrolanmu di fb. Dan ternyata aku tak mampu. Hatiku terus memaksa untuk menggubris sms darimu. Aku benar-benar tidak bisa menolak.
Kau telah menganiaya perasaanku. Kau tahu kan doa orang yang dianiaya dengan mudah doanya dikabulkan oleh Yang Kuasa. Dan dalam doaku aku meminta kau bisa membalas rasaku ini, walau hingga saat ini aku belum mendapat jawaban pasti darimu.
Ternyata jatuh di hatimu itu sangat menyakitkan.
Aku merasa ini sudah tiba di titik nadir.
Bukannya aku mudah menyerah, tapi ...
Ya, seperti yang dikatakan sahabatku, mengharapkan kau membalas cintaku ini ibarat menjaring angin. Tidak akan pernah bisa dan tidak akan pernah terjadi! Aku kasihan pada diriku sendiri. Kasihan hatiku terus menahan perih dan cemburu yang tidak ada habisnya.
Jangan berpikir aku menjauh karena membencimu. Aku tidak akan membencimu, meski kau menggantung perasaanku. Aku tidak menyesal telah jatuh hati padamu, meski yang kurasa adalah rasa sakit. Kulakukan itu karena aku ingin menghapus wujudmu yang sudah terpatri kuat di dalam hati dan pikiranku.
Ya, aku harus kembali mundur dan kembali menunggu. Menunggu orang lain sembari dengan masih susah payah aku mematikan rasaku kepadamu.

(Fiksimini ini telah diterbitkan oleh Majalah Fastword, Edisi Maret 2014)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lima Channel Youtube yang Sering Kutonton

Inilah Aku: 5 Fakta tentang Diri Sendiri

Review: Surat dari Kematian

Lima Kebahagiaan Sederhana

[Cerpen-DiGi Magazine Edisi 03] Mei di Bukit Hitsujiyama

Pesan Moral dari Ade Ubaidil

[Review] Twiries The Freaky Twins Diaries

Postingan populer dari blog ini

Lima Channel Youtube yang Sering Kutonton

Inilah Aku: 5 Fakta tentang Diri Sendiri

Review: Surat dari Kematian