Impianku: Dulu dan Sekarang
Siapapun punya
cita-cita. Apa cita-citamu? Itu pertanyaan paling sering ditanya waktu
SD. Ada yang mau jadi dokter, polisi, tentara, pilot, guru, bahkan ada yang mau
jadi artis. Itulah jawaban yang paling sering diucapkan teman-temanku waktu SD.
Nah sekarang, apakah
masih bertahan dengan cita-cita yang diucapkan dulu? Sudah tercapai belum?
Apakah ada perubahan dalam pemilihan cita-citamu?
Pilihan cita-citaku 17
tahun yang lalu, saat umurku masih 5 tahun, aku ingin jadi GURU. Waktu itu aku
berpikir jadi guru itu pekerjaan yang mulia. Ngajarin orang yang nggak tau jadi tau. Apalagi sampai ada lagu
yang judulnya Pahlawan Tanpa Jasa. Isi lagu itu menggambarkan betapa mulianya
jadi seorang guru.
Namun saat SMP,
cita-citaku berubah. Keinginan untuk jadi guru tetap masih ada hanya saja
enggak semenggebu waktu aku SD. Aku malah pengen jadi penulis.
Koleksi buku di
perpustakaan SMP tempat aku belajar, sangat banyak. Mulailah aku mengenal para
penulis-penulis Indonesia, Marah Rusli dengan Siti Nurbaya-nya, Sutan Takdir
Alisjahbana dengan Atheis-nya. Ada Nh.Dhini, Chairil Anwar, Buya Hamka,
Pramoedya Anantha Toer. Roman-roman yang masih kuingat ada Si Jamin dan Si
Joan, Robohnya Surau Kami, Salah Asuh, Dibawah Lindungan Ka’bah, Layar Terkembang.
Aku pun termotivasi untuk menjadi penulis. Ditambah lagi aku diikutkan lomba
menulis ilmiah tentang lingkungan yang diadakan oleh MAPALA Universitas Santo
Thomas Medan. Dan dapat juara tiga pula, semakin tinggilah keinginanku untuk
jadi penulis. Nah berarti aku ada dua cita-cita, jadi guru dan penulis.
Kayaknya setiap
pendidikanku naik ke tingkat selanjutnya pasti cita-citaku juga ada perubahan.
Nah, saat aku SMA, terlintas dipikiranku, aku pengen jadi wartawan. Aku lihat
di TV, jadi wartawan itu seru. Meliput berita, tidak hanya di Indonesia tapi
juga ke luar negeri. Bisa bertemu dengan banyak orang, mulai dari jabatan yang
biasa aja sampai yang luar biasa. Memang resiko jadi wartawan itu berat, bisa
nyawa taruhannya. Tapi tetap pengen jadi wartawan!
Malah keinginanku untuk
jadi penulis di saat aku SMA mulai surut. Itu karena nggak ada yang membimbing
aku lagi. Guru Bahasa Indonesia SMP-ku dulu rajin memberitahu ada lomba nulis
ini itu, selain itu juga dibimbingnya. Lha...di SMA? Nggak ada. Terus mamakku
bilang, jadi penulis itu cuma kerja sampingan, maka surutlah semangatku.
Apalagi saat aku ikut lomba penulisan cerpen, aku nggak menang. Lama-kelamaan
semangat aku untuk jadi penulis pun menguap!
Setelah tamat SMA, aku
benar-benar bingung. Mau kemana? Entahlah aku mau jadi apa. Mau jadi guru? Mau
jadi penulis tapi semangat naik turun. Mau jadi wartawan...aku harus ngambil
kuliah jurusan apa? #waktu itu belum ngerti.
***
Oke, aku punya tiga impian,
jadi guru, penulis dan wartawan. Sekarang ujung-ujungnya aku kembali ke
cita-cita awalku, jadi guru. Karena itu yang akan kuresmikan statusnya nanti. Gelar
Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) yang Insya Allah akan nangkring di belakang
namaku.
Lalu gimana keinginan untuk
jadi penulis dan wartawan?
Sebenarnya tanpa
kusadari, ternyata aku sudah menjalani ketiga cita-citaku itu. Ya disaat aku
kuliah sekarang ini. Aku ikut bergabung dengan Dinamika. Dinamika itu Lembaga
Pers Mahasiswa, organisasi intra kampus yang bergerak di bidang jurnalistik, ya
bisa dibilang media massanya kampus. Keinginanku jadi wartawan akhirnya
terpenuhi, meskipun hanya seorang jurnalis kampus yang jangkauannya belum
begitu luas. Aku sudah merasakan, oh ternyata jadi seorang jurnalis itu
kayak gini. Aku jadi tahu sistem kerja redaksi pembuatan majalah itu
seperti apa.
Kalo jadi penulis?
Waktu itu ada tawaran
dari bang Ali Murtadho (redaktur koran Analisa dan pendiri Dinamika) untuk kru
Dinamika, yakni membuat cerpen yang nantinya akan dibukukan, jadi antologi
cerpen. Cerpenku yang pernah kuikutkan lomba dan nyatanya enggak menang, cerpen
itu lah yang kukasih ke bang Ali. Sebelumnya cerpen itu kuedit lagi, kusadari
aku yang salah. Karena setelah kubaca berkali-kali, banyak kata yang
bersalahan, baik EYD maupun sinkronisasi isinya. Setelah yakin barulah kukasih.
Dan aku nggak berharap banyak. Berhasil masuk Alhamdulillah, kalo enggak ya
mungkin belum rezeki.
Setelah beberapa bulan
menunggu (berapa lama ya? Nggak
kuhitung-hitung, karena terlalu pasrah), akhirnya buku itu diterbitkan
dan...cerpenku lulus! Dia memang enggak menang waktu kuikutkan lomba, tapi
sekarang dia dibukukan bersama cerpen kru Dinamika yang lain. Itulah, ternyata
Allah punya rencana lain. Dan semangatku untuk jadi penulis bangkit lagi.
Apalagi aku berada di sekitar orang-orang yang gemar menulis.
Guru, penulis, dan
jurnalis, adalah impian yang sedikit demi sedikit mulai kugapai. Ketiganya
menyenangkan. Malah sekarang aku punya tambahan keinginan. Aku pengin jadi
editor bahasa yang handal. Karena di Dinamika selain sebagai reporter, aku juga
sebagai editor.
Itulah impianku yang semuanya masih dalam proses dan perlahan mulai tercapai. Aku
pernah membaca saran seseorang tentang impian: Bermimpi besar, mencintai mimpi
itu. Melakukan langkah-langkah kecil yang konsisten untuk mewujudkan mimpi
besar itu. Melakukan yang terbaik, sisanya serahkan pada Tuhan.
masih dalam proses ya? benar, harus konsiten dan bertahap :)
BalasHapussemoga tercapai semua impuianmu ^^
terima kasih, sudah terdaftar yaaa
terima kasih juga kakak :)
BalasHapustetap semangat menulis ya mbak Fitri..kalau mau ikut pelatihan nulis online inbox saya ya..
BalasHapushai kak, salam kenal :)
BalasHapus