JALAN-JALAN MALAM
Karena terlalu asyik, aku nggak
sadar kalau jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas!! Waduuh!! Aku pun segera minta tolong sama abang penjaga warnet untuk
menge-print
makalah yang sudah kuketik. Tak lupa juga kusimpan datanya di flashdisk. Arbi, adikku, masih asyik dengan Point Blank-nya.
“Udah setengah dua belas, dek. Ayo pulang! Nanti nggak ada angkot”, aku menyadarkannya.“Minta jemput sama ayah aja”, sarannya. Oh iya
ya. Kurogoh kantong celana
jeansku. Lho? Nggak ada? Kuperiksa
dikantong yang sebelah kiri. Nihil! Wuaaah..Hpku ketinggalan! Biasanya aku bawa tas,
tapi karena tadi kupikir cuma sebentar aja di warnet ya nggak kubawa. Gawat!
Selesai membayar biaya nge-net plus nge-print, kami segera meninggalkan warnet itu. Jalanan masih ramai. Mungkin karena ini
malam minggu. Tapi
angkotnya nggak ada yang nampak satu pun dari tadi. Sekitar dua puluh menit lebih kami nunggu.
Pose menunggu angkotpun sudah berubah-ubah, mulai dari berdiri sambil lipat
tangan, berkacak pinggang, jongkok, berdiri lagi, berkacak pinggang lagi lalu garuk-garuk
kepala, tapi angkot beserta supirnya nggak
kunjung datang. Becak motor lewat di depan kami. Atau naik becak motor aja, pikirku. Tapi...uang yang kupunya
pas-pasan. Takutnya nggak cukup.
Walaah. Atau jalan kaki aja.
“Yakin, kak? Kita
jalan kaki?”, tanya Arbi nggak yakin.
“Iya”, jawabku santai.
“Kak….”
“Apa?”
“Apa?”
“Kau nggak takut sama yang di depan kuburan itu?”
Depan kuburan?? Ya, kutau siapa yang dimaksud sama si Arbi.
“Udah nggak apa-apa. Orang itu nggak mangkal di situ lagi”, kataku sok yakin.
“Dari mana kau tau?”.
Kuhiraukan
pertanyaannya. Perjalanan pun dimulai. Sebenarnya banyak warnet yang berjejer
di sekitar Jalan Veteran ini. Bahkan di dekat rumahku pun ada. Tapi aku sudah merasa
lebih nyaman di warnet itu.
Allah, selamatkan kami sampai di rumah.
***
Coba
kalo tadi perginya lebih cepat, pasti kan
nggak selarut ini. Tadi sampai di rumah jam delapan, agak lama di kampus. Nggak kuliah sih. Tiap hari Sabtu kan ada pelatihan untuk anak magang
Dinamika dan tadi juga membahas keberangkatan ke Binjai besok, mau PPL
(Pelatihan Peliputan Lapangan). Makanya pulangnya agak lama.
Kebetulan
tetangga dekat rumah ada yang pesta, ya udah nemanin emakku undangan dulu. Udah janji juga soalnya. Nah tau lah di
lokasi pesta itu, kalo mamak ketemu mamak, ujung-ujungnya ya bercerita lah
panjang lebar. Saat kuajak mamakku pulang, mamakku bilang, “Nanti dulu”. Malah teman mamakku nambahin, “Nanti dulu, Fit. Itu
biduannya ada yang mau nari ular”. Gubrak!!
Padahal aku mau ke warnet, ada tugas
kuliah yang harus kukerjakan. Kalau besok, aku yakin pasti nggak sempat lagi. Karena bakalan malam lagi sampai di rumah.
Ya
setelah menunggu sampai jam sembilan lewat lima belas barulah pulang ke rumah.
Saat kubilang aku mau ke warnet, mamakku sedikit nge-rap, bukan nge-rap sekeren
Eminem atau Akon. Tapi ini nge-rep (nge-repet). Tuh kan, tadi diajak pulang
cepat nggak mau. Dan jurus-jurus
rayuan supaya diizinkan kulontarkan. Aku sudah minta tolong sama adik
laki-lakiku satu-satunya untuk nemanin aku ke warnet. Dia pun bersedia. Hampir
lima belas menit merayu, akhirnya akupun diizinkan.
***
Sesungguhnya aku malu. Anak perempuan masih
berkeliaran di luar rumah udah tengah malam gini! Pake jilbab pula itu! Semoga aja nggak ada orang yang kukenal yang melihatku. Ah biarlah, toh aku nggak melakukan hal-hal yang “berlebihan”. Kalau nggak karena terpaksa juga aku nggak mau pulang tengah malam kayak gini. Ya sekali-sekali bertindak di atas ambang kenormalanku nggak apa-apa kan? ^^
Aku juga pengen tau, situasi di luar rumah kalau tengah malam kayak apa ya? Untung aku punya adik laki-laki. Kalau mau kemana-mana minta tolong
aja sama dia. Minta tolong temenin. Ternyata dia ada manfaatnya juga. Selama ini dia itu kadang menyebalkan. Gangguiiin aja bisanya. Berhubung fisik dia
lebih gede dan tinggi dari aku,
paling orang berpikir dia itu abangku.
“Kak, apa iya orang itu nggak ngumpul di situ lagi?”, tanya Arbi lagi.
“Iya, waktu itu aku pernah pulang jam
sebelas malam, tapi nggak ada kok. Biasanya kan jam setengah sebelas pun orang itu udah disitu.” (Yaah, nampak kali yang sering pulang malam).
Ternyata masih banyak pedagang makanan yang masih buka jam segini bahkan baru buka. Terutama tukang sate. Hadooh…aroma asap
sate menusuk-nusuk hidung. Jadi laper lagi.
Kami terus berjalan. Sesekali Arbi melihat kebelakang kalau-kalau
masih ada angkot yang lewat. Sudahlah
Arbi, entar lama-lama kepalamu muter ke belakang, nggak usah dipaksa kali. Udah nggak ada lagi angkotnya.
Kami melewati sebuah lapangan yang luasnya hampir seluas lapangan
bola. Emang iya. Biasanya beberapa bulan sekali ada pasar
malam yang singgah di lapangan itu. Tapi kali ini tidak. Lapangan itu gelap
gulita, sunyi, cuma ada suara jangkrik. Di pinggirannya banyak kios untuk jualan yang didirikan. Kalo siang tentu saja rame.
Karena ini sudah
malam, ya cuma warung tuak aja yang masih buka dan masih cukup rame. Kulihat
Arbi menghentikan langkahnya lalu mengutipi batu-batu yang ukurannya kecil.
“Ngapai kau ngutipi batu ?”, tanyaku heran.
“Untuk
jaga-jaga aja, kak. Kalo ada yang ganggu, kita lempar aja pake batu. Apalagi kalo kita
diganggu sama banci-banci yang ada disitu”, jawabnya. Ya kami sudah mau mendekati kuburan. Depan kuburan
itu, jadi tempat mangkal banci. Tapi haruskah seekstrem itu??
“Iya tapi kalo
nggak diganggu jangan dilempar-lempar ya.”
***
Dan ow…ternyata prediksiku salah! Mereka masih mangkal di situ
ternyata. Sekarang munculnya tengah malam ya? Wah kayaknya rame tuh. “Tuh kan, kak”.
Aku pun harus ekstra hati-hati juga. Terkadang mereka mau melakukan tindakan yang mengerikan. Itu karena aku pernah baca di koran, ada seorang
mahasiswa yang dirampok sama banci. Kedoknya, banci itu minta tolong eh nggak taunya malah dirampok. Handphone dan
dompetnya diambil. Untung harga dirinya nggak ikutan diambil. (0_o)
Temanku juga
pernah cerita kalo teman guru lesnya pernah dilempar pisau silet sama banci dan
pisau itupun menancap di bahunya. Sadis
kali! Banci daerah mana sih itu?
“Kenapa
bisa sampek kayak gitu, Vid?”,
tanyaku waktu itu.
“Kata
guru ane sih, kawannya itu gangguin
tuh banci. Mungkin banci itu nggak seneng, ya dilemparlah pake
silet.” Begitu. Ya,ya,ya. Siapapun, yang berhati peri sekalipun, kalo diganggu
pasti bisa berubah jadi monster.
Baiklah aku harus tenang. Aku cuma mau lewat doang. Lagian aku nggak bawa barang-barang berharga. Handphoneku
aja ketinggalan. Uang di kantong pun pas-pasan. Cuma ada flashdisk dan beberapa lembar kertas A4 ditanganku. Ayo lewat aja nggak usah takut. Bismillah.
Aku merasakan aura yang berbeda saat mulai mendekati
mereka. Entahlah, aura apa itu. Mereka berdiri berjejer-jejer dengan pose
seanggun mungkin layaknya seorang model. Sesekali kuperhatikan mereka satu persatu. Rambut
panjang lurus tergerai, pakaian yang dipakai mini-mini, high heel yang
nggak tanggung tingginya dengan berbagai model. Aroma aneka parfum yang
menyeruak. Aku kayak lagi melihat
pertunjukan sebuah fashion show.
Ada yang cuek saat kuperhatikan, tapi ada juga yang nggak senang. Kalo ada yang kayak gitu segera kualihkan pandanganku. Tapi ada juga
yang senyum-senyum seraya memainkan ujung rambutnya. Dia senyum sama siapa? Sama aku (ge
er) atau sama Arbi? Pandangan kualihkan ke adikku. Arbi lagi nggak ngeliatin tuh banci, dia malah masih sibuk memperhatikan apakah masih ada angkot yang lewat. Aku melihat banci itu
lagi. Dia masih tersenyum dan ya kali ini dia melambaikan tangannya ke arahku. Hahh??!! Ya sudahlah nggak usah dianggap serius. Aku pun membalas
senyumannya. Bukankah senyum itu ibadah?:) Ada-ada
aja.
Wuuaaah…mereka
kok bisa se-jamilah dan se-feminin
itu?? Aku aja pake high heel nggak lulusL. Aku jadi bertanya-tanya, ini siapa
sebenarnya yang cewek? Mereka atau aku? Aku yang memang cewek tapi nggak gitu-gitu kali lah. Atau aku yang bermasalah? Husshh!! Atau mungkin yang membuat mereka kelihatan cantik itu
karena salah satu lampu jalan (khusus) di tempat mereka berdiri itu mati, jadi
penyinarannya nggak sempurna. Ada tipu daya dari cahaya. Mungkin.
Aku melihat salah satu dari mereka ada yang lagi bertransaksi dengan
seorang pria paruh baya. Aku pun mendengar apa yang
mereka bicarakan saat aku melewati keduanya. Beginikah sisi lain situasi
diluar rumah disaat tengah malam?
***
Banci yang cantik. Coba deh kalo dia kembali ke wujud asalnya, pasti
itu yang ganteng-ganteng. Bikin sakit hati. Kenapa yang ganteng-ganteng malah jadi perempuan? Jadi berkurang kan populasi orang ganteng. Hmm..Sekarang makin
banyak cowok yang jadi cewek, baik yang merubah total maupun yang
setengah-setengah. Tadi waktu di undangan, biduannya juga banci. Populasi
perempuan (asli) itu udah terlalu banyak. Lha kalo yang cowok pada jadi cewek
semua? Mereka
tau nggak kalo sebenarnya jadi perempuan itu agak-agak ribet. Banyak dari
perempuan yang harus dijaga. Nggak boleh ini, nggak boleh itu. Harus jaga ini, harus jaga itu. Bukankah jadi
laki-laki itu lebih simpel? Mr. Simple.
Aku penasaran, bahkan pengen berteman sama
mereka. Dulu waktu aku SMA, aku pengen punya teman tamatan pesantren. Karena
aku mau kealiman mereka itu bisa ditransfer ke aku. Dan sekarang itu udah
terwujud, ya meskipun aku nggak alim-alim kali.
Nah sekarang aku pengen berteman sama banci. Emang ada banci yang mau berteman sama
ente?? Pernah kucoba kenalan sama banci di fb, tentunya kami sudah berteman.
Aku duluan yang nyapa. Berulang kali tapi nggak pernah digubrisnya. Aku heran.
Kenapa ya kok gitu? Padahal aku nggak ada maksud jahat. Aku cuma mau berteman
sekaligus pengen tau kenapa dia bisa gitu (jadi perempuan). Aku pun juga nggak
akan secara langsung dan blak-blakan nyuruh dia balik ke kodratnya. Ya kalo itu
kan butuh proses, nggak langsung hari ini juga terjadi. Mungkin itulah cara
mereka yang nggak mau terlalu welcome terhadap ‘orang asing.’ Padahal
(ditekankan lagi) aku nggak bermaksud jahat ataupun yang aneh-aneh. Cuma pengen
berteman. Gokil!
Hidup dan cara hidup orang bermacam-macam. Tapi
apakah kefemininan mereka itu harus dieksploitasi di pinggir jalan kayak gitu? Memang
sih nggak semua banci kayak gitu.
Tapi dipikiran masyarakat sudah tersugesti kalau kebanyakan banci selalu
mangkal di pinggir jalan. Dan...jahat!
Aku
kasihan sama mereka. Harus menjalani keadaan yang seperti itu. Jika ditanya
kenapa, pasti akan ada sejuta kata ‘karena’ untuk menjawab itu semua. Aku
sendiri masih bingung tentang konsep takdir yang telah ditetapkan Allah kepada
makhlukNya. Ada yang bilang itu cobaan untuk mereka. Tapi kalo mereka nggak
sanggup dan akhirnya terlalu pasrah?
Mereka juga manusia yang harus dihargai. Aku memang
menghargai tapi bukan berarti membenarkan apa yang mereka lakukan. Ya, semoga
hidayah selalu dilimpahkan untuk mereka sebelum terlambat, sebelum ajal menjemput,
dan sebelum malaikat Israfil meniupkan sangkakalanya.
Juni 2011
Di dataran pulau kapuk
02:13:34
*masih sangat-sangat penasaran.
pertama lulu pikir yang kalian takutkan di depan kuburan itu hantu wkwkwkwkwk
BalasHapusiya hantunya agak beda, Lu
Hapus:D